Pos Sehat Al Huda, Jl. Sukarajin I Kota Bandung
+6285798493023

Pelajaran dari Organ Lambung Saat Puasa Ramadhan…(1)

Image by brgfx on Freepik

Ketika Ramadhan, seringkah saat berbuka puasa hanya dengan 3 butir kurma, segelas air, dan 2-3 porsi kecil buah kita sudah merasa kenyang? Bahkan seolah nafsu makan kita pun hilang. Padahal, beberapa saat sebelum buka puasa kita sudah belanja macam-macam makanan untuk berbuka dan berencana mencicipinya nanti. Kenapa ya? Yuk kita belajar dari lambung kita.

Di bulan Ramadhan, lambung kita akan beradaptasi terhadap kondisi minim makanan. Lambung, memiliki tiga lapis otot yang tebal dan bersifat plastis, akan menciut kembali ke “fitrahnya” yang hanya bisa muat 0,5 liter makanan. Bandingkan, saat kondisi tidak berpuasa Ramadhan, lambung kita dapat muat makanan sampai 1,5 liter alias 3 kali lipat lambung di bulan Ramadhan! Saat tidak berpuasa Ramadhan, umumnya kita makan tiga kali sehari belum termasuk makanan selingan. Frekuensi makan yang “cukup sering” tersebut tidak memberikan kesempatan lambung “kembali ke fitrahnya”. Bahkan, semakin banyak makanan yang mengisi lambung, lambung akan “melar” karena kemampuannya yang plastis. Semakin “melar-nya” lambung justru menimbulkan rasa belum kenyang, yang justru memacu lagi untuk nambah makan, nambah makan… baru setelah penuh, kita pun berhenti makan secara otomatis.

Keseimbangan antara keinginan dan kebutuhan makan

Lantas faktor apa yang memotivasi kita untuk nambah lagi, nambah lagi? Berdasarkan ilmu fisiologi (Carol, et al, 2018), ada dua faktor yang berperan saat lambung kita sedang kosong, rasa lapar (hunger) dan nafsu makan (appetite). Rasa lapar lebih didominasi oleh faktor internal biologis tubuh kita. Sedangkan nafsu makan, selain ditentukan oleh faktor psikologis, juga ditentukan oleh faktor eksternal seperti pengaruh lingkungan. Hunger dan appetite saling berkaitan dalam menentukan kapan, berapa banyak, dan apa yang kita makan.  Simpelnya, rasa lapar (hunger) ditimbulkan oleh kebutuhan tubuh akan asupan makanan sedangkan nafsu makan (appetite) adalah keinginan untuk makan.

Sebenarnya tubuh kita sendiri mampu mendeteksi bahwa makanan yang kita makan itu sudah memenuhi kebutuhan tubuh. Ilmuwan Barat menunjukkan bahwa manusia memiliki kurang lebih sepuluh hormon kenyang (yang berfungsi untuk berhenti makan) dan “hanya” tiga hormon lapar (yang fungsinya memicu makan). Artinya, secara alamiah, perangkat manusia untuk menge-rem makan lebih pakem terutama saat kebutuhan makan sudah terpenuhi, dibandingkan makan nge-gas alias makan terus. Namun, yang sering kejadian adalah keinginan makan lebih dominan daripada kebutuhan makan inilah yang membuat seseorang nambah lagi… nambah lagi… atau ngemil lagi… ngemil lagi…Kita mengabaikan perangkat-perangkat tubuh yang seharusnya bisa nge-rem makan demi memuaskan appetite (nafsu makan) kita.

Mindfullness Eating

Oleh karena itu di Barat, bermunculan metode makan dengan pendekatan psikologis. Salah satunya adalah mindfullness eating. Metode ini menekankan lebih pada aktivitas, sensasi yang ditimbulkan, perasaan dan pikiran saat makan. Mindful eating meningkatkan kesadaran saat makan tetapi tanpa men-judge makanan itu sendiri. Fung dkk menjabarkan panduan mindful eating: apa, seberapa banyak, kenapa, dan bagaimana cara kita makan. Perkumpulan Ahli Jantung Amerika Serikat (AHA) pun merekomendasikan metode makan ini dengan menambahkan poin sertakan perasaan bersyukur saat makan. Alhasil, sebuah telaah sistematik  menunjukkan bahwa mindful eating efektif menurunkan berat badan pada orang overweight dan obesitas.

Bersambung...

One thought on “Pelajaran dari Organ Lambung Saat Puasa Ramadhan…(1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *