Pos Sehat Al Huda, Jl. Sukarajin I Kota Bandung
+6285798493023

Aku Sehat?

Di dalam benak kita, pertanyaan di atas terkesan biasa saja… “Selama ini kita tidak merasakan keluhan apa-apa pada tubuh kita, tentunya aku sehat dong…” demikian pikir kita. Atau, “Ah, saya masih bisa beraktivitas dan bekerja dengan baik setiap hari kok, tanpa merasakan keluhan yang berarti, paling hanya merasakan lelah yang bila istirahat akan hilang lelahnya. Berarti saya sehat.” Kedua anggapan di atas tidak terlalu salah, tetapi, misalnya seseorang dengan tekanan darahnya yang selalu tinggi tanpa merasakan keluhan apa pun, apakah bisa dikatakan tubuhnya sehat? Atau seseorang yang badannya sehat, selalu bergaul dengan teman-teman yang positif, tetapi setiap malam tidak bisa tidur karena memikirkan pekerjaan yang menumpuk di kantor, apakah dikatakan sehat?

Pada tulisan kali ini, penulis ingin mengajak Sobat Sehat merenungkan dan apabila bisa, merubah paradigma bahwa sehat bukan hanya berarti tidak dirasakannya keluhan pada tubuh fisik kita. Berdasarkan definisi dari WHO, sehat adalah keadaan sejahtera fisik, mental, dan sosial secara utuh dan bukan hanya bebas dari penyakit atau kelemahan"

Sumber: https://www.mindmypeelings.com/blog/health-triangle

Yuk kita pahami! Individu manusia tersusun dari beberapa aspek, yaitu fisik biologis, mental psikologis, serta aspek sosial. Aspek fisik biologis adalah aspek di mana tubuh kita dapat menjalankan fungsi dasar yaitu mempertahankan hidup sebagai mahluk hidup, seperti bernapas, mencerna makanan, berkembang biak, dan lainnya. Aspek mental psikologis meliputi perasaan, pikiran, juga emosi yang utamanya sebagai respon kita terhadap lingkungan di sekitar kita. Termasuk bagaimana kita belajar dan meningkatkan kemampuan diri kita. Aspek sosial berhubungan dengan kemampuan kita berinteraksi dengan baik dengan individu lain di sekitar kita, seperti keluarga, teman, atau rekan kerja. Ketiga aspek tersebut saling mempengaruhi satu sama lain.

Aspek Penting yang “Terlupakan”

Selain ketiga aspek di atas, ada satu aspek lagi yang juga sangat penting yaitu aspek ruhani spiritual. Namun sayangnya, aspek spiritualitas seringkali tidak dianggap penting sebagai salah satu aspek yang turut menentukan derajat kesehatan. Salah satu alasannya adalah spiritualitas dipengaruhi banyak sekali faktor yang sulit diukur oleh metode ilmiah saat ini. Mungkin ini yang menjadi alasan mengapa WHO tidak memasukkan spiritualitas menjadi salah satu aspek kesehatan. Meskipun demikian, sudah banyak penelitian yang menunjukkan hubungan antara spiritualitas dan derajat kesehatan yang baik.

Kondisi sehat sejahtera (wellness) adalah suatu kondisi seimbang di antara keempat aspek tersebut. Karena manusia adalah mahluk hidup yang selalu bergerak dan beraktivitas, maka, keseimbangan aspek kesehatan pun bersifat dinamis, tidak menetap pada suatu kondisi. Terkadang tiga aspek dalam kondisi baik, tetapi fisik kita sedang lemah, misalnya. Atau terkadang fisik, sosial, dan spiritual kita baik, tapi kita sedang stres menghadapi pekerjaan kita.

Di dalam ajaran Islam, aspek spiritual menjadi aspek yang terpenting di dalam mengatur keseimbangan aspek-aspek di atas, sebagaimana sebuah hadits dari An Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, di mana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung)” (HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599). Bila kita mampu me-manage hati kita dengan baik, Biiznillah, pikiran, fisik, dan hubungan sosial kita akan ikut menjadi baik.

“Makanan” setiap Aspek Kesehatan

Jadi, sehat itu adalah sebuah upaya terus menerus dalam menjaga keseimbangan keempat aspek kesehatan, spiritual, fisik, mental, dan sosial. Bagaimana cara menjaga keseimbangannya? Ulama klasik Islam, Ibnul Qayyim Al Jauziyah, menyebutkan bahwa setiap aspek kesehatan harus kita beri “makan”. Hah? Makanan? Iya, makanan… sebagaimana fisik tubuh kita akan merasa lapar, maka secara insting kita akan mencari makanan untuk memenuhi hasrat lapar tubuh kita dan mengisinya dengan nutrisi yang cukup untuk tubuh bekerja kembali optimal.

Setiap aspek kesehatan tubuh kita pasti akan merasa lapar. Sebagaimana fisik kita membutuhkan karbohidrat sebagai sumber tenaganya, aspek mental psikologis kita harus kita penuhi nutrisinya. Pikiran manusia “lapar” akan hal-hal positif. Manusia adalah mahluk pembelajar yang selalu “lapar” mempelajari hal baru. Kemampuan menyelesaikan prioritas aktivitas dan menyelesaikannya juga dapat mengatasi “lapar” pikiran sehingga tidak mudah stres. Dalam aspek sosial, jelas sekali manusia membutuhkan manusia lainnya dalam hidup. Manusia tidak dapat hidup sendirian, maka, hubungan sosial yang baik adalah “nutrisi” bagi aspek sosial manusia.

Bagaimana dengan nutrisi hati? Imam Ibnul Qayyim Al jauziyah menyatakan bahwa nutrisi hati adalah ajaran syariat Islam. Khususnya ajaran ke-Tauhid-an, peng-Esa-an Allah ﷻ. Seringkali kita menyaksikan orang-orang terpandang yang memiliki banyak harta, dikelilingi teman dan penggemar yang juga banyak, seolah-olah dunia di tangan mereka. Namun, apa yang terjadi? Mereka tenggelam dalam penyalahgunaan narkoba atau bahkan mati bunuh diri. Kenapa? Hati mereka kosong dari ajaran syariat.

Jadi, tugas kita adalah terus berupaya memberi “nutrisi” yang baik dan bermutu kepada setiap aspek kesehatan agar kondisi keseimbangan dapat terjaga sehingga derajat sehat pun optimal. Tidak mudah memang, oleh karena itu, mari kita sama-sama belajar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *