
Sekitar 50 sampai dengan 100 tahun lalu, mungkin nenek dan kakek buyut kita lebih banyak mengonsumsi makanan asli (real food) ketimbang makanan olahan apalagi makanan kemasan siap saji. Revolusi tekonologi pangan dan penjualan retail modern dalam 60 tahun belakangan ini mengakibatkan ledakan pertumbuhan produksi dan konsumsi makanan olahan. Makanan olahan telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari gaya hidup masyarakat saat ini. Di mini market, kita melihat jajaran makanan dan minuman kemasan di rak pajang dengan aneka kemasan yang menarik. Namun, ternyata terdapat lebih dari 10 bahaya di balik makanan kemasan siap saji yang dikonsumsi secara terus menerus?
Klasifikasi Pemrosesan Makanan
Penting untuk mengetahui klasifikasi makanan berdasarkan tingkat pemrosesannya (di dalam industri pangan) sebelum dikonsumsi oleh manusia. Hal ini berkaitan dengan jenis kelompok makanan yang lebih berdampak bagi kesehatan. FAO menggunakan klasifikasi NOVA.

Kelompok 1 – makanan tanpa pemrosesan atau pemrosesan minimal
Makanan tanpa pemrosesan adalah bagian yang dapat dimakan baik dari tumbuhan maupun hewani (biji-bijian, kacang-kacangan, buah-buahan, dedauan, batang, akar, telur, susu). Tujuan kelompok ini pada umumnya untuk menyingkirkan bagian yang tidak dapat dimakan, tujuan menyimpan makanan, dan proses memasak demi keamanan dan kenyamanan sebelum dimakan. Biasanya proses memasak sederhana di rumah dan restoran termasuk ke dalam kelompok ini. Tanpa keterlibatan proses industri.
Kelompok 2 – pemrosesan komposisi/bahan pangan
Pabrik memproses kelompok makanan ini untuk digunakan bersama dengan pangan kelompok 1 sebagai bumbu. Contoh makanan kelompok ini adalah gula, garam, minyak, mentega. Proses industri yang terlibat misalnya adalah penyulingan, penggilingan, penggerusan, dan pemurnian.
Kelompok 3 – pemrosesan makanan alami
Kelompok ini adalah makanan alami yang mengalami pemrosesan dengan menambah pangan kelompok 2 ke dalam kelompok 1 dengan tujuan daya tahan produk atau modifikasi rasa melalui pengawetan, fermentasi, asinan atau manisan. Contoh produk kelompok ini adalah: asinan / manisan buah, keju, daging kalengan, daging asap.
Kelompok 4 – makanan kemasan cepat saji atau makanan ultra-proses
FAO mengkategorikan makanan kemasan siap saji ke dalam kelompok makanan ultra-proses (ultra-processed food = UPF)
Kita dapat menyebut makanan kemasan siap saja dengan makanan “formulasi pabrik” yang mengandung sedikit sekali atau tanpa kandungan pangan asli. Hal itu terlihat pada daftar panjang komposisi bahan di kemasannya. Kita tidak akan mendapatkan bahan-bahan pembuat makanan kemasan di dapur rumah kita. Kita dapat menemukan komposisi bahan tambahan yang sifatnya “kosmetis”. Pabrik menggunakan bahan tersebut untuk tampilan warna, mengemulsi, atau memunculkan rasa pangan asli atau bahkan menyamarkan kualitas akhir produk. Hasilnya adalah pangan yang hiper-palatable (sangat enak di lidah). Seluruh proses tersebut biasanya melalui lebih dari 1 tahap industrial. Tujuannya tidak lain untuk menghasilkan “pangan baru” menggantikan pangan lainnya demi mencari keutungan setinggi-tingginya.
Makanan kemasan siap saji atau makanan ultra-proses memiliki sinonim dengan junk-food. Junk-food adalah makanan dengan kandungan nutrisi, vitamin, mineral yang rendah, dengan energi, garam, gula, dan lemak yang tinggi. Jika kita mengonsumsi junk-food dalam jumlah besar dan menjadi kebiasaan harian, maka junk-food tidak memiliki peran apa pun di dalam pola makan yang sehat.
Contoh: makanan ringan (snack), biscuit, makanan instan (mie), makanan siap santap kemasan, permen, minuman ringan (soda, kemasan)
Trend Konsumsi Makanan Kemasan Siap Saji
Sebuah lembaga independen di Eropa, Euromonitor, mengamati total volume penjualan makanan ultra-proses per kapita dari 80 negara sejak 2002─2016 serta mencocokannya dengan indeks massa tubuh (IMT). Hasilnya menunjukkan:
Asia Tenggara dan Asia Selatan adalah kawasan dengan peningkatan volume penjualan makanan ultra-proses paling tinggi sebesar 67,3%. Peningkatan volume penjualan minuman ultra proses paling pesat masih di negara2 Asia Tenggara dan Asia Selatan (120%)!
Peningkatan volume penjualan per kapita pangan dan minuman ultra-proses secara positif berhubungan dengan peningkatan IMT di tingkat populasi.
Penduduk negara maju, seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Kanada, mengonsumsi makanan ultra-proses lebih dari setengah total kalori harian yang mereka butuhkan.

Bahaya di Balik Makanan Kemasan Siap Saji
Satu penelitian dengan bukti yang kuat menunjukkan pabila kita mengonsumsi makanan kemasan siap saji dalam jumlah banyak secara terus-menerus, maka terdapat bahaya sebagai berikut:
Dalam jangka pendek, dapat berefek samping pada kesehatan dan kebugaran secara umum karena:
- Meningkatkan stres dan tidak bersemangat
- Rasa kelelahan meningkat karena tingkat energi yang menurun
- Sulit tidur
- Sulit fokus dan konsenstrasi
- Gigi keropos
Dalam jangka panjang, penelitian menunjukkan:
Dapat terjadi over-konsumsi yang mengakibatkan peningkatan berat badan (obesitas) dengan risiko sebesar >39%
- Risiko penyakit pembuluh darah seperti: hipertensi, hiperkolesterolemia serta penyakit jantung meningkat risikonya sebesar > 30%
- Penyakit diabetes, kanker, bahkan depresi meningkat risikonya masing-masing sebesar 50%, 12%, dan 20%;
- Kejadian kerentaan di mana fungsi fisik tubuh menurun lebih cepat sehingga membutuhkan pendampingan perawat lansia dapat meningkat 300%!
- Kematian dini (kematian antara usia 30 – 70 tahun), penyebab kematian apa pun meningkat > 28% dan akibat penyakit jantung meningkat 50%.
Di tulisan berikut, kami akan membahas mengenai mekanisme kenapa bisa berbahaya dan bagaimana cara menghindarinya.
Sumber:
https://nutritionfacts.org/video/ultra-processed-junk-food-put-to-the-test/#transcript
One thought on “Bahaya di Balik Makanan Kemasan Siap Saji”