Pos Sehat Al Huda, Jl. Sukarajin I Kota Bandung
+6285798493023

Makanan Kemasan Bikin Nagih?

Image by Freepik
Image by Freepik

Setiap kali kita mengonsumsi makanan kemasan, satu sampai dua kali suapan terasa tidak cukup. Tanpa kita menyadarinya, tangan kita terus saja merogoh makanan di dalam kemasan itu. Memangnya makanan kemasan bikin nagih? Betul. Ternyata produsen makanan kemasan mendesain (membuat) makanan kemasan dengan tujuan agar konsumen "tidak berhenti" mengonsumsi produk mereka. Berikut penjelasannya.

Alasan Ilmiah Kenapa Makanan Kemasan Terasa sangat Enak

Image by Kerfin7 on Freepik
The image of the human brain

Industri makanan dan minuman kemasan siap saji mengenal istilah bliss point (titik bahagia). Bliss point adalah titik terenak dan ternyaman yang dipersepsi pengecapan lidah kita saat mengonsumsi produk makanan kemasan. Bliss point sebenarnya adalah keseimbangan rasa asin dari garam, gurih dari lemak dan manis dari gula yang menimbulkan persepsi enak tadi.

Saat kita makan makanan enak, otak akan mengaktifkan suatu sirkuit penghargaan (reward). Rasa enak menimbulkan reward berupa pengeluaran endorfin (hormon bahagia). Akan terjadi serbuan kimia yang membanjiri otak dengan kesenangan sehingga otak akan menciptakan lebih banyak reseptor untuk dopamin sebagai respons. Dopamin (hormon yang memicu ketagihan) akan mendorong kita terus "mencari" reward bahagia.

Sehingga sirkuit reward akan terjadi terus menerus. Inilah penjelasan makanan kemasan bikin nagih.

Kombinasi ketiga bahan makanan tadi yang secara sinergis memicu dopamin, bukan salah satunya. Aplikasi bliss point ini sebenarnya mendapatkan kritik karena diduga berhubungan dengan perilaku adiksi konsumsi makanan kemasan.

Dengan cara yang sama seperti orang dengan kecanduan narkoba atau alkohol membutuhkan dosis yang lebih besar dari waktu ke waktu, kita menginginkan lebih banyak junk food semakin banyak Anda memakannya.

Kenapa bisa berbahaya?

Pada tulisan kami sebelumnya, bahaya di balik konsumsi makanan kemasan bagi kesehatan dapat timbul akibat:

Konsumsi berlebihan (over-consumption) makanan kemasan karena sifat makanan kemasan yang hiperpalatabel, sangat terasa enak. Hal tersebut dapat menimbulkan gangguan “sinyal lapar-kenyang” (ketidakseimbangan antara hormon leptin dan ghrelin). Salah satu dampak yang timbul adalah asupan pangan bernutrisi tinggi menjadi turun. Seringkali makanan kemasan siap saji mengandung kalori yang tinggi, lemak-trans, karbohidrat olahan, gula olahan, sedang “isi” nutrisinya rendah.

Selain itu, makanan kemasan nyaman dan mudah langsung dikonsumsi. Kampanye pemasaran makanan kemasan sangat pervasif (sangat mengena) dan persuasif.

Makanan kemasan juga masih dapat mengandung substansi berbahaya dampak pemrosesan, seperti kontaminan sampingan dari proses suhu tinggi, bahan aditif yang mengganggu komposisi mikrobiota usus dan memicu inflamasi, serta komponen perusak keseimbangan hormonal dari kemasan makanan.

Bagaimana Menghindarinya?

<a href="https://www.freepik.com/free-vector/fatty-man-rejecting-fast-food-cartoon_5467521.htm#page=2&query=stop%20eating%20junk%20food&position=39&from_view=search&track=ais">Image by vectorpocket</a> on Freepik
Image by vectorpocket on Freepik

Lalu, bagaimana sebaiknya kita bersikap? Terdapat dua strategi yang sebaiknya dilakukan bersamaan. Secara global berkaitan dengan pemangku kebijakan.

    • Pemerintah dapat mengeluarkan kebijakan fiskal berupa pungutan (pajak) makanan dan minuman ultra-proses serta junk food yang terbukti efektif menekan penjualannya;
    • Pencantuman label peringatan pada kemasan depan (front-of-package) dengan lebih ketat;
    • Pengaturan cara-cara pemasaran agar tidak langsung menyasar anak-anak usia sekolah;
    • Perlindungan lingkungan sekolah dengan program terstruktur;
    • Kebijakan komprehensif lainnya yang telah diterapkan pemerintah Chile mampu mengubah norma sosial dan kultural seputar isu ini sehingga menurunkan permintaan makanan ultra-proses.

Tugas kita adalah secara individu, kita harus mengedukasi diri kita dan keluarga mengenai masalah ini. Terapkan langkah-langkah berikut:

    • Rencanakan makanan dan kudapan Anda sebelumnya. Anda memutuskan apa yang Anda makan berdasarkan kebutuhan nutrisi, bukan berdasarkan apa yang tersisa di lemari makan Anda. Perencanaan ke depan juga membantu Anda menjaga anggaran dan membuat belanja lebih mudah.
    • Pilih buah segar untuk pencuci mulut daripada junk food untuk menghindari tambahan garam, gula, dan lemak jenuh.
    • Periksa nilai nutrisi makanan Anda pada informasi nutrisi di bagian belakang kemasan.
    • Hati-hati dengan 'trik' iklan, termasuk klaim bahwa suatu produk 'low sugar', karena masih bisa tinggi kalori, garam, atau lemak. Misal, suatu produk mengklaim “low fat” padahal “hanya” lebih sedikit lemak daripada versi aslinya - tetapi mungkin masih tinggi lemak.

Kesimpulan

Sebagai seorang dari bagian komunitas muslim, sudah seyogianya kita menerapkan tuntunan Islam di dalam keseharian kita. Kita diperintahkan untuk memilah dan memilih makanan yang halal dan terbaik bagi kesehatan kita.

    • QS. Abasa: 24

“maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya

    • QS. Al Baqarah: 168

“Wahai manusia! Makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti Langkah-Langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu.”

Sumber:

https://globalfoodresearchprogram.org/wp-content/uploads/2021/04/UPF_ultra-processed_food_fact_sheet.pdf 

https://en.wikipedia.org/wiki/Bliss_point_(food)#References

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *