
Anda suka makan mie instan? Hati-hati sindrom metabolik. Berbagai kalangan masyarakat, dari segala usia maupun kelas ekonomi sangat menggemari makanan ini. Harganya yang terjangkau, kemudahan memperolehnya di manapun, dan kemudahan penyajiannya menjadikannya makanan sejuta umat. Hal ini terbukti dari tingkat konsumsi mie instan yang meningkat sebanyak 990 juta bungkus di tahun 2022. Namun, konsumsi mie instan berhubungan dengan sindrom metabolik.
Kandungan Mie Instan
Mie instan mengandung kalori yang rendah. Para produsen juga memproduksi mie instan dan memfortifikasi dengan zat besi dan vitamin B. Namun, kebanyakan merk mie instan yang beredar di pasaran masih mengandung sedikit nutrien penting seperti protein, vitamin A, vitamin C, vitamin B12, kalsium, magnesium, kalium dan serat.
100 gram mie instan mengandung garam 4 kali lipat kandungan yang direkomendasikan WHO. Kementerian Kesehatan Indonesia pun merekomendasikan paling banyak konsumsi 1 sendok teh garam (setara 5 gr) per hari yang juga setara dengan 2 gr natrium. Kelebihan konsumsi natrium dapat berhubungan dengan hipertensi, penyakit jantung dan ginjal.
Sebagaimana makanan instan lainnya, mie instan pun mengandung pengawet dan penyedap makanan. Produsen mie instan menggunakan TBHQ (tertiary butylhydroquinone) sebagai salah satu bahan pengawet. Konsumsi TBHQ tidak berbahaya dalam kadar kecil. Namun, pada penelitian hewan uji coba, konsumsi secara jangka panjang dapat memengaruhi kerusakan jaringan syaraf, meningkatkan risiko limfoma, dan pembesaran liver. Pada uji coba laboratorium, bahan pengawet ini dapat merusak DNA manusia.
Sebagaimana makanan instan lainnya, mie instan juga mengandung MSG (monosodium-glutamat) yang berperan sebagai penyedap makanan. Pada orang yang memiliki sensitivitas MSG, akan mengalami keluhan pusing, mual, hipertensi, kelemahan dan kram otot.
Mie Instan dan Sindrom Metabolik
Sindrom metabolik adalah suatu kumpulan dari tiga atau lebih gejala penyakit berikut: obesitas abdominal (buncit), darah tinggi, hiperglikemia (gula darah tinggi), hipo-HDL (kadar HDL rendah), atau hipertrigliseridemia (kadar trigliserida yang tinggi). Sindrom metabolik berhubungan dengan banyak penyakit degeneratif seperti panyakit jantung, stroke, diabetes, dan ginjal. Sebuah penelitian terbaru (2023) pada 72.000 subjek penelitian menunjukkan bahwa adanya hubungan kausalitas (sebab-akibat) antara konsumsi mie instan dan penyakit sindrom metabolik.
Para peneliti menemukan bahwa subjek dengan asupan mie instan yang tinggi mengonsumsi lebih sedikit karbohidrat, lebih tinggi zat lemak, protein dan natrium serta lebih sedikit kalsium, vitamin D, vitamin C, dan flavonoid mengindikasikan kualitas makanan secara keseluruhan yang buruk.
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa orang dewasa yang mengonsumsi mie instan >= 130 gram per hari dengan frekuensi >= 3 kali per pekan berkaitan dengan glisemik indeks yang lebih tinggi dan secara positif berkaitan dengan 34% risiko lebih tinggi menderita sindrom metabolik.
Konsumsi Mie Instan dengan “Lebih” Sehat

Kami mengutip sebuah artikel, bila memang kegemaran mengonsumsi mie instan sudah kuat, ada beberapa cara membuat mie instan kita “lebih menyehatkan”.
- Kita dapat menambah sayuran seperti sawi, jamur, wortel, brokoli dan bawang dapat membantu menambah serat dan nutrien yang tidak terkandung pada mie instan.
- Menambah protein sehat seperti daging ayam, ikan, tahu, atau telur sehingga dapat membantu rasa kenyang lebih lama
- Mengurangi penyedap rasa bubuk yang disediakan dapat menurunkan konsumsi kadar natrium dan MSG.
- Mengganti bumbu kuah mie instan dengan kuah kaldu buatan sendiri yang lebih alamiah dan menyehatkan
- Prof. Frank Hu dari Universitas harvard menganjurkan untuk menjarangkan konsumsi mie instan menjadi hanya 1-2 kali per BULAN ketimbang 1-2 kali per pekan.
Sumber
https://www.mdpi.com/2072-6643/15/9/2091
https://www.healthline.com/nutrition/ramen-noodles#nutrition