Berikut ini adalah kajian online seputar kesehatan Islami yang diadakan oleh Yayasan HSI Berbagi. HSI Berbagi mengadakan kajian ini pada Sabtu, 25 Mei 2024 secara online. Kami membahas tema Adab Makan Rasulullah ﷺ dalam Perspektif Kesehatan sesuai dengan tulisan kami sebelumnya. Bagi Sobat Sehat yang berminat menyaksikannya silakan klik tautan berikut.
Kategori: Adab makan
Alasan Larangan Meniup Makanan dan Minuman

Nabi Shallallahu 'Alayhi wa Salam melarang kita meniup makanan atau minuman. Berikut ini alasannya.
Larangan Rasulullah ﷺ Meniup Makanan atau Minuman
Di dalam satu hadits Kitab Shahih, 'Abdullah bin Abu Qatadah dari Bapaknya dari Nabi ﷺ, beliau mensabdakan, “…dan jangan bernafas dalam gelas saat minum." (HR. Bukhari No. 153)
Imam An Nawawi mengatakan bahwa larangan bernafas di dalam gelas saat minum adalah adab. Nafas akan mengotori air minum atau ada sesuatu yang dapat jatuh dari mulut atau dari hidung atau semacamnya. (Syarh Shahih Muslim, 3/160)
Ibnul Qayyim juga mengatakan bahwa meniup minuman bisa menyebabkan air itu terkena bau yang tidak sedap dari mulut orang yang meniup, sehingga membuat air itu menjijikkan untuk diminum. Terutama ketika saat orang itu menderita bau mulut. (Zadul Ma’ad, 4/215).
Alasan Larangan Meniup Makanan atau Minuman secara Ilmiah
Secara ilmiah, alasan larangan meniup makanan atau minuman adalah sebagai berikut. Tubuh manusia mengandung berbagai muatan negatif seperti sampah bio-elektrik, suhu, sisa-sisa metabolisme, gas dan sebagainya. Tubuh harus mengeluarkan muatan negatif tersebut agar tidak berdampak pada kesehatan. Salah satu mekanisme yang dapat membantu mengeluarkan muatan negatif itu adalah proses pernapasan. Oleh karena itu, pernapasan adalah salah satu mekanisme yang menjaga keseimbangan bio-elektrik tubuh.
Saat kondisi tubuh mengandung lebih banyak muatan positif (proton), maka, proses pernapasan akan membuang kelebihan elektron. Contoh kondisi ini adalah saat otot berkotraksi. Saat otot berkontraksi akan terjadi penumpukan asam laktat yang mengandung lebih banyak muatan proton.
Bila kita meniup makanan atau minuman, akan terjadi perubahan profil struktur makanan atau minuman itu. Struktur air atau makanan yang mengandung air akan berubah lebih asam (megandung lebih banyak H2CO3, asam karbonat) sehingga akan berdampak pada kesehatan.
Secara filosofis, meniup makanan serta minuman sama artinya dengan kita menghembuskan keburukan yang seharusnya kita buang ke dalam makanan. Seolah kita mengonsumsi kembali sampah yang awalnya hendak kita buang.
Sumber:
https://konsultasisyariah.com/18256-adab-makan-dilarang-meniup-makanan-dan-minuman.html
Cara Hidup Sehat Islami, 2015, Tauhid Nur Azhar, Bandung Barat: Tasdiqiya Publisher
Sehatnya Makan dengan Tangan Kanan dan Tiga Jari

Di zaman sosial media seperti saat ini, tontonan dan berfoto selfie dengan makanan bahkan tayangan mukbang sudah sangat tidak asing lagi di perangkat gadget kita. Rasa lapar dan mengendalikan nafsu makan adalah kegiatan pengendalian diri yang paling dasar (DR Umar Faruq Abdullah). Ketika kita tidak bisa mengendalikan makan kita, maka kita akan sulit mengendalikan nafsu lainnya yang lebih besar. Berikut ini mari kita ulas mengenai Sehatnya makan dengan tangan kanan dan tiga jari.
Makan menggunakan tangan
Makan adalah kegiatan yang melibatkan indera yang banyak. Indera – penglihatan, penciuman, rasa, sentuhan dan bahkan pendengaran – semuanya terlibat dan bekerja secara harmonis. Tangan, mata dan hidung, memungkinkan sistem pencernaan untuk mempersiapkan apa yang akan kita konsumsi bahkan sebelum makanan mencapai mulut kita.
Saat kita makan menggunakan tangan, akan mendorong kewaspadaan karena memungkinkan kita lebih berkonsentrasi pada makanan dan merasa lebih terhubung dengannya, merasakan tekstur makanan, mencium aromanya dan benar-benar menikmatinya. Hal itu membuat kita makan lebih lambat dan memperhatikan seberapa banyak kita makan.
Sebuah penelitian menemukan bahwa orang tua mampu membantu anak-anak mereka yang berusia 8 sampai 12 tahun yang kelebihan berat badan mengurangi kebiasaan makan berlebihan dengan melatih mereka makan dengan tangan. Penelitian lain juga menemukan bahwa orang yang makan cengan cepat berhubungan dengan diabetes melitus tipe 2 saat menggunakan alat makan. Hal ini berkaitan dengan ketidakseimbangan gula darah dalam tubuh sehingga berkontribusi terhadap perkembangan diabetes melitus tipe 2.
Makan menggunakan tangan kanan
Secara anatomi dan fisiologi, belahan (hemisfer) otak kiri mengatur sisi kanan tubuh dan sebaliknya. Belahan otak kiri berkaitan dengan proses kognitif, kemampuan mempelajari, analitik, terukur dan menyimpulkan. Sedangkan sisi hemisfer kanan berkaitan dengan hal yang bersifat acak, random, artistik, kreativitas, kenikmatan, dan imajinasi.
Dari fakta di atas, kita dapat menarik pelajaran bahwa makan harus mengedepankan analisis kebutuhan bukan hanya aspek keindahan dan estetika apalagi aspek kenikmatan semata. Kita harus menganalisis jenis, jumlah, serta waktu makan kita apakah sesuai dengan kebutuhan tubuh kita atau tidak. Dari sinilah proses pengendalian diri bermula, menggunakan tangan kanan ketika makan berarti mengedepankan aspek pengendalian diri sesuai kebutuhan dan tidak berlebihan.
Sebaliknya, orang yang terbiasa makan dengan tangan kiri akan lebih memprioritaskan aspek kenikmatan, keindahan, dan estetika makanan ketimbang kebutuhan. Mereka lebih memperhatikan rasa dan emosi. Lahirlah sifat hedonis yang memperturutkan hawa nafsu, lebih mencintai aspek duniawi. Inilah budaya dari Eropa Kontinental dan Amerika yang mengedepankan aspek estetik dan kenikmatan. Mereka makan menggunakan medium pisau dan garpu menggunakan 2 tangan saat makan, tangan kanan dan kiri tidak ada bedanya.
Mereka lebih mencintai makanan daripada mencintai Tuhannya alias lebih mendahulukan kehendak hawa nafsu daripada kehendak Zat Pencipta. – Tauhid Nur Azhar, PhD.
Menurut Rasulullah ﷺ mereka ini adalah golongan pengikut setan:
Di dalam sebuah hadits, dari Salim dari Bapaknya, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,
"Janganlah sekali-kali seseorang diantara kalian makan dan minum dengan tangan kiri, karena setan makan dengan tangan kiri dan minum dengan tangan kiri pula.” (HR Muslim No. 3765)
Sayangnya, kebanyakan orang saat ini, terobsesi dengan makanan yang enak, tampilan estetik dan menarik, bahkan para youtuber menampilkan adab makan yang sangat tidak sesuai dengan ajaran Islam. Cara makan mukbang, menyiarkan makan porsi besar kemudian meng-upload secara online.
Makan dengan Tiga Jari
Selain menggunakan tangan kanan, pengendalian diri via adab makan juga dapat kita lakukan dengan menggunakan tiga jari saja saat makan. Di dalam sebuah hadits, dari Ibnu Ka’ab bin Maalik, dari ayahnya radhiallahu‘anhuma mengatakan bahwa Rasūlullāh ﷺ biasa makan dengan menggunakan tiga jari,
“Rasūlullāh ﷺ makan dengan menggunakan tiga jari, dan Beliau menjilat tangannya sebelum membersihkannya” [HR Muslim No. 3791].
Di dalam Syarah Riyadhus shalihin Juz 7/243, Syeikh Ibnu Utsaimin rahimahullah mengatakan: “Dianjurkan untuk makan dengan tiga jari, yakni jari tengah, jari telunjuk, dan jempol, karena hal tersebut menunjukkan sifat tidak rakus dan ketawadhu’an. Namun hal ini berlaku untuk makanan yang bisa dimakan dengan menggunakan tiga jari...”
Saat kita makan menggunakan tiga jari, jumlah makanan yang masuk ke dalam mulut lebih seimbang jumlahnya dengan jumlah enzim. Kelenjar ludah memproduksi enzim amilase dan lisozim dapat mencerna makanan dengan optimal sehingga makanan menjadi cepat lumat. Sehatnya makan dengan tangan kanan dan tiga jari.
Sumber:
https://bimbinganislam.com/adab-makan-menggunakan-lebih-dari-tiga-jari/
https://id.pinterest.com/pin/164592561361886572/
Cara Hidup Sehat Islami, 2015, Tauhid Nur Azhar, Bandung Barat: Tasdiqiya Publisher
Mengunyah Lebih Lama, Bikin Langsing!

Kita sering mendengar dari orang tua kita dulu untuk makan jangan terburu-buru. Tetapi, apakah kita mengetahui manfaatnya bagi kesehatan tubuh kita? Ternyata, mengunyah lebih lama bikin langsing loh.
Hadits Rasulullah ﷺ tentang Jangan Makan Tergesa-Gesa
Di dalam satu hadits, Ibnu 'Umar radhiallahu'anhu mengatakan bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Apabila seseorang dari kalian sedang makan janganlah dia tergesa-gesa hingga dia menyelesaikan kebutuhan (makan)-nya sekalipun salat jamaah sedang dilaksanakan." (HR. Al Bukhari No. 633, HR. Muslim No. 868)
Bila tuan rumah atau keluarga kita telah menghidangkan makanan sementara kita sedang dalam kondisi lapar, maka, lebih baik kita makan terlebih dahulu. Faidah dari hadits di atas adalah agar hati kita lebih tenang dan tidak memikirkan makanan saat menunaikan sholat. Namun, kita lebih baik tidak sering melakukan kondisi seperti ini.
Mengunyah Lebih Lama Membantu Makan Lebih Sedikit dan Menurunkan Asupan Kalori
Mengunyah lebih lama bikin langsing dengan cara sebagai berikut. Peningkatan frekuensi mengunyah akan menekan hormon rasa lapar (ghrelin) sekaligus melepaskan hormon kenyang (leptin). Seluruh proses “kenyang” ini memakan waktu 20 menit. Bila kita makan lebih lama dari biasanya, maka memberi waktu otak menerima proses persinyalan kenyang sehingga nafsu makan kita akan menurun sekaligus merasa kenyang lalu berhenti makan.
Mengunyah lebih lama mengurangi perasaan lapar lebih cepat sehingga menekan asupan makanan secara keseluruhan dan menurunkan asupan energi. Sebuah penelitian menunjukkan asupan kalori menurun sebanyak 9,5% ketika kita mengunyah 1,5 kali lebih banyak daripada normal dan menurun 15% saat kita mengunyah 2 kali lebih banyak.
Sebaliknya, makan terlalu cepat dapat mengakibatkan over-eating karena otak tidak memiliki waktu yang cukup untuk memproses rangkaian sinyal lapar-kenyang di atas. Makan terlalu cepat berhubungan dengan risiko obesitas yang lebih tinggi sebesar 115%.
Manfaat Lain Mengunyah Lebih Banyak
Mengunyah lebih lama membantu proses pencernaan lebih sehat karena makanan dilumatkan sampai dengan siap diserap oleh usus.
Menambah kenikmatan makanan yang dimakan
Menambah rasa tenang, tidak terburu-buru, menurunkan stres, dan merasa memegang kendali
Oleh karena itu, aktivitas mengunyah yang meningkat dapat menjadi salah satu modalitas penanganan obesitas.
Saran untuk mengunyah lebih lama
Hindarkan rasa lapar yang berlebih dengan cara mengonsumsi makanan selingan tinggi serat
Frekuensi mengunyah yang dianjurkan adalah 25 kali karena dirasakan lebih nyaman ketimbang harus mengunyah sebanyak 40 kali atau bahkan hanya 10 kali saja.
Letakkan sendok dan garpu saat Anda sedang mengunyah
Campur makanan dengan makanan tinggi serat sehingga membutuhkan waktu lebih lama untuk mengunyah
Matikan layar gadget, hape, televisi. Pusatkan fokus kita hanya pada makanan kita makan.
Sumber:
https://muslimah.or.id/5532-adab-makan-dan-minum.html
https://time.com/4736062/slow-eater-chew-your-food/
https://www.healthline.com/nutrition/eating-slowly-and-weight-loss#thorough-chewing
Li J, Zhang N, Hu L, Li Z, Li R, Li C, Wang S. Improvement in chewing activity reduces energy intake in one meal and modulates plasma gut hormone concentrations in obese and lean young Chinese men. Am J Clin Nutr. 2011 Sep;94(3):709-16. doi: 10.3945/ajcn.111.015164. Epub 2011 Jul 20. PMID: 21775556.
Cara Duduk saat Makan yang Menyehatkan
Kami telah membahas mengenai kualitas dan kuantitas makanan pada beberapa tulisan kami sebelumnya. Pada tulisan kali ini, mari kita mengulas tentang adab (cara) duduk saat makan yang menyehatkan bagi seorang Muslim. Satu hal yang pasti adalah kita hendaknya mencontoh teladan kita semua Nabi ﷺ dalam segala hal karena beliau ﷺ adalah teladan yang terbaik bagi kita.
Cara Duduk Nabi ﷺ saat Makan

Di dalam kitab Sahih-nya, Imam Muslim meriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu yang berkata,
رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُقْعِيًا يَأْكُلُ تَمْرًا
“Aku melihat Nabi shallallahu’alaihi wasallam duduk iq’a saat makan kurma.” (HR. Muslim No 3807)
Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah, di dalam Syarh Sahih Muslim, menjelaskan bahwa duduk iq’a adalah menegakkan kedua telapak kaki dan duduk di atas kedua tumitnya. Maksud beliau ﷺ makan seperti itu agar beliau ﷺ tidak tenang saat duduk sehingga tidak makan banyak. Pada umumnya, orang yang duduk iq’a tidak akan tenang saat duduk sehingga tidak banyak makan. Sebaliknya, jika seseorang duduk tenang dan santai maka pada umumnya akan banyak makan. Karena banyak makan tidak pantas dilakukan (bagi seorang muslim).
Al Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah juga menegaskan bahwa posisi duduk saat makan adalah duduk dengan bertumpu pada kedua lutut dan kedua punggung telapak kaki atau duduk dengan menegakkan kaki kanan dan menduduki kaki kiri.
Jadi, para ulama menganjurkan tiga macam cara duduk bagi seorang Muslim saat makan yang menyehatkan, Biiznillah. Yang pertama adalah duduk iq’a, duduk bertumpu pada kedua lutut dan punggung telapak kaki, dan duduk di atas kaki kiri dan menegakkan kaki kanan.
Bagaimana dengan Duduk di Kursi?

Di dalam satu hadits, Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Juhaifah radhiyallahu’anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
لَا آكُلُ مُتَّكِئًا
“Aku tidak makan sambil duduk itka’.” (HR. Al Bukhari No. 4980)
Imam Nawawi mengatakan di dalam Syarh Shahih Muslim, “Makna hadits diatas, ‘Aku tidaklah makan makanan seperti orang yang ingin banyak makan lalu dia mengambil posisi duduk yang nyaman. Namun aku duduk seperti orang yang akan bangkit serta makan sedikit.”
Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid hafidzahullah memfatwakan bahwa duduk itka’ adalah semua cara duduk yang bisa membuat tenang dan santai saat makan. Duduk semacam ini mendorong seseorang makan lebih banyak.
Lalu, bagaimana dengan kita yang telah terbiasa duduk di kursi saat makan? Dari hadits Nabi ﷺ, para ulama tidak menganjurkan duduk berlama-lama sehingga menjadi santai dan nyaman saat makan. Karena hal itu dapat mendorong kita makan lebih banyak.
Penjelasan Ilmiah Cara Duduk Nabi ﷺ
Duduk berlutut saat makan diklaim dapat meningkatkan aliran darah ke daerah perut. Posisi ini dapat membantu proses pencernaan dan penyerapan nutrisi makanan dengan lebih optimal. Selain itu, posisi ini membantu kerja saraf vagus lebih baik. Saat makan, lambung akan melepaskan hormon leptin yang akan mengirimkan sinyal ke saraf vagus untuk menginformasikan bahwa kita sudah kenyang. Oleh karena itu, kita tidak akan makan berlebihan.
Duduk berlutut di lantai juga dapat meregangkan sendi lutut dan pinggul sehingga menjadi lebih fleksibel. Posisi ini melatih otot postural lebih aktif menjadi tegak membuat punggung dan bahu lebih kuat. Posisi duduk berlutut menjadikan pikiran lebih tenang ketika makan, sehingga Anda bisa lebih menikmati makanan dan tidak makan berlebihan.
Berjalan 2 Menit setelah Makan, Menyehatkan Loh
Dari penjelasan ulama di atas, Nabi ﷺ memposisikan duduk beliau seperti akan segera bangkit berdiri lalu berjalan. Ternyata aktivitas ini memberi manfaat bagi kesehatan tubuh. Di dalam suatu penelitian meta-analisis, peneliti menemukan bahwa berjalan ringan setelah makan setidaknya hanya selama 2 – 5 menit dapat menurunkan kadar gula darah. Para peneliti membandingkan efek berjalan tersebut dengan kegiatan lainnya seperti posisi duduk atau bersandar di sofa. Berjalan dengan intensitas ringan memerlukan kerja aktif dari beberapa otot kaki daripada sekadar berdiri. Berjalan pun menggunakan bahan bakar dari makanan di saat yang sama bahan bakar tersebut banyak tersedia di dalam darah. Oleh karena itu, otot dapat memanfaatkan kelebihan glukosa yang kita konsumsi.
Ketika subyek penelitian diminta berjalan setelah makan, maka peneliti mendapatkan kadar gula darah mereka meningkat lalu turun secara bertahap. Kondisi tersebut juga dapat menstabilkan kadar insulin. Secara jangka panjang, manfaat berjalan setelah makan adalah mencegah penyakit diabetes melitus tipe 2 dan menjaga kesehatan jantung.
Kegiatan ini dapat lebih bermanfaat dalam menurunkan kadar gula darah dalam jangka waktu 60 – 90 menit setelah makan. Menurut dr. Kershaw Patel, seorang preventive cardiologist, usaha aktivitas fisik sekecil apa pun akan memberi manfaat meski hanya sebuah langkah yang ringan.
Kesimpulan
Dari ulasan singkat di atas kita dapat menyimpulkan bahwa Nabi ﷺ duduk berlutut saat makan dengan posisi seperti orang yang akan segera bangkit berdiri lalu berjalan. Posisi duduk berlutut memiliki banyak manfaat bagi kesehatan seperti membantu proses pencernaan dan penyerapan makanan sekaligus mencegah makan lebih banyak serta menguatkan persendian tubuh. Aktivitas berdiri dan berjalan setelah makan ternyata juga memberikan manfaat menurunkan kadar gula darah dan menstabilkan horomon insulin. Secara jangka panjang, dapat mencegah diabetes melitus tipe 2, menjaga kesehatan jantung. Nabi ﷺ telah melaksanakannya sejak 1400 tahun yang lalu. Allahu Akbar!
Posisi duduk berlutut saat makan dengan posisi seperti orang yang akan segera bangkit berdiri lalu berjalan seolah menunjukkan bahwa Nabi ﷺ “tidak senang” berlama-lama dan memperbanyak makan. Sangat kontras dengan kita di zaman sekarang. Kebanyakan orang saat ini justru senang dengan “wisata kuliner”. Berlama-lama “menikmati” makanan bahkan ber-“selfie” dengan makanan tersebut lalu up-date status. Subhanallah. Mari kita perbaiki diri kita dan orang-orang terdekat di sekitar kita untuk terus melaksanakan Sunnah Rasulullah ﷺ yang nyata-nyata membawa manfaat bagi dunia dan akhirat.
Sumber:
https://wanitasalihah.com/3-posisi-duduk-yang-dianjurkan-ketika-makan/
https://muslimah.or.id/5532-adab-makan-dan-minum.html
https://brightside.me/articles/why-people-in-japan-sit-on-the-floor-to-eat-801355/
https://edition.cnn.com/2020/07/29/health/floor-sitting-benefits-wellness-partner/index.html
https://link.springer.com/article/10.1007/s40279-022-01649-4
https://www.nytimes.com/2022/08/04/well/move/walking-after-eating-blood-sugar.html