Pos Sehat Al Huda, Jl. Sukarajin I Kota Bandung
+6285798493023

Sekilas tentang Herbal (Pangan Fungsional)

Image by <a href="https://www.freepik.com/free-photo/top-view-natural-medicinal-spices-herbs_11375834.htm#&position=0&from_view=user&uuid=bc1295a7-4f77-4df8-8352-787bc9aee21e">Freepik</a>
Image by Freepik

Pada artikel ini, akan kita membahas sekilas tentang herbal (pangan fungsional). Masyarakat awam mengenal tanaman yang berfungsi mengobati dengan istilah herbal. Berdasarkan KBBI, herbal adalah hal-hal yang berkaitan dengan herba. Sedangkan herba sendiri adalah tumbuhan yang daun, bunga, atau akarnya dapat digunakan untuk bumbu makanan, obat-obatan, atau parfum. Berdasarkan ilmu gizi, kita mengenal pula pangan (makanan) fungsional.

Firman Allah ﷺ

Allah Subhanallahu Wata’ala berfirman di dalam QS Abasa ayat 29:

 “dan zaitun dan pohon kurma”

Allah Subhanallahu Wata’ala menyebutkan tentang zaitun karena yang memiliki manfaat antara lain kita dapat memanfaatkannya selain sebagai makanan buah, juga dapat kita manfaatkan sebagai minyak dan obat. Kemudian Allah Subhanallahu Wata’ala menyebutkan pohon kurma karena kurma bisa menjadi makanan pokok, juga bisa menjadi buah-buahan. kita juga dapat menyimpan kurma sebagai makanan pokok.

Allah telah menganugerahkan kepada kita berbagai macam pengobatan alamiah yang terkandung di dalam makanan.

Pengertian pangan fungsional

Pangan fungsional adalah substansi makanan atau bagian makanan yang memberikan manfaat bagi kesehatan, baik mengobati maupun mencegah penyakit. Beragam jenis pangan fungsional mulai dari zat makanan terisolasi, suplemen makanan, jenis diet spesifik, sampai dengan modifikasi genetik makanan yang (GMO) termasuk juga produk-produk herbal.

Berdasarkan asalnya, pangan fungsional dapat berasal dari alam maupun formulasi.

Berdasarkan sumbernya, pangan fungsional dapat bersumber dari tumbuhan (fitokemikal), hewan (zookemikal), alga, jamur dan mikroorganisme.

Fitokemikal adalah komponen bioaktif dari tumbuhan yang bersifat non-nutrisi dan memiliki manfaat mencegah penyakit. Beberapa sifat fitokemikal:

    • Non-nutritif
    • Peneliti mengetahui lebih dari 1000 fitokemikal
    • Tumbuhan memproduksi komponen ini sebagai proteksi tetapi studi menunjukkan komponen tersebut dapat memprotek manusia dari penyakit.
    • Komponen ini adalah zat nutrisi non-esensial, tubuh manusia tidak membutuhkannya untuk mempertahankan hidup.

 

Contoh-contoh Pangan Fungsional

Contoh pangan fungsional fitokemikal yang sering kita ketahui antara lain:

Polifenol (flavonoid, isoflavonoid)  yang terdapat pada buah-buahan, sayuran, dan kacang-kacangan, antosianidin yang terdapat pada buah beri, anggur, dan jeruk, fitoestrogen yang terdapat pada legume, buah beri, kacang tanah, terpenoid pada jamur, karotenoid pada wortel, tomat, sayuran daun-daunan, limonoid pada jeruk, fitosterol pada kacang-kacangan, sayuran, dan biji-bijian, glukosinolat pada sayuran kembang kol dan sejenisnya, serta jenis-jenis serat (fiber).

Manfaat Pangan Fungsional bagi Kesehatan

Berbagai manfaat kesehatan pangan fungsional tersebut bagi kesehatan antara lain: melindungi dari berbagai penyakit seperti kanker, penyakit jantung koroner, diabetes, hipertensi, infeksi dan inflamasi, osteoporosis, dan lainnya.

Pada tulisan-tulisan berikutnya akan kita bahas berbagai jenis herbal (pangan fungsional) yang dikenal masyarakat Indonesia. Biiznillah.

Sumber:

https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/herbal

https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/herba

https://firanda.com/tafsir-surat-abasa-tafsir-juz-amma/

https://doi.org/10.1016/B978-0-12-818593-3.00011-7

Nutrigenomik, Hubungan Makanan dan Gen Kita

Image By freepik
Image By freepik

Nutrigenomik adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara asupan makanan tertentu dengan ekspresi gen.

Sekilas mengenai Ekspresi Genetik

Ekspresi gen adalah apa yang nampak di tubuh kita, misal ekspresi gen rambut kita berwarna hitam, maka nampaklah rambut kita berwarna hitam. Contoh lain adalah ekspresi gen warna kulit kita adalah sawo matang, maka nampaklah warna kulit kita sawo matang, dan seterusnya. Namun, tidak selamanya ekspresi gen kita selalu dalam posisi “menyala” (on). Terdapat faktor lingkungan (di sekitar kita) yang dapat mempengaruhi ekspresi gen, itu disebut sebagai epigenetik. Nutrigenomik adalah ilmu mengenai salah satu jenis epigenetik yaitu makanan/nutrisi. Kita mengharapkan ekspresi gen yang "mati” / off yaitu ekspresi gen penyakit sehingga tidak muncul di badan kita.

Nutrigenomik

Ilmu ini mempelajari hubungan antara genom manusia, nutrisi, dan kesehatan. Fungsi nutrigenomik antara lain adalah mengidentifikasi bagaimana makanan dapat mengubah ekspresi gen yang dapat mempengaruhi proses metabolisme. Jadi, nilai kemanfaatan makanan tidak hanya ditinjau dari pengaruhnya terhadap kesehatan tingkat organ atau sel tubuh, bahkan sampai kepada tingkat gen sebagai cetak biru manusia. Makanan dapat meng-off-kan ekspresi gen bakal penyakit, dan sebaliknya, makanan dapat meng-on-kan ekspresi gen kebaikan dan keunggulan fisik maupun psikologis.

Sebagai seorang muslim, mari kita menerapkan tuntunan Islam di dalam keseharian kita. Allah memerintahkan kita untuk memilah dan memilih makanan yang halal dan terbaik bagi kesehatan. Sesuai firman-Nya:

    • Abasa: 24

“maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya

    • Al Baqarah: 168

“Wahai manusia! Makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti Langkah-Langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu.”

Kesimpulan

Kesimpulannya, nutrigenomik dapat membantu mengevaluasi kebutuhan nutrisi individu berdasarkan profil genetiknya (personalized diet). Bahkan dapat membantu penyembuhan dan pencegahan penyakit kronis.

Sumber

https://link.springer.com/article/10.1007/s12291-017-0699-5

Cara Hidup Sehat Islami, 2015, Tauhid Nur Azhar, Bandung Barat: Tasdiqiya Publisher

Sehatnya Makan dengan Tangan Kanan dan Tiga Jari

Image by <a href="https://www.freepik.com/free-photo/front-view-delicious-food-arrangement_7945548.htm#query=eating%20with%20hand&position=49&from_view=search&track=ais">Freepik</a>
Image by Freepik

Di zaman sosial media seperti saat ini, tontonan dan berfoto selfie dengan makanan bahkan tayangan mukbang sudah sangat tidak asing lagi di perangkat gadget kita. Rasa lapar dan mengendalikan nafsu makan adalah kegiatan pengendalian diri yang paling dasar (DR Umar Faruq Abdullah). Ketika kita tidak bisa mengendalikan makan kita, maka kita akan sulit mengendalikan nafsu lainnya yang lebih besar. Berikut ini mari kita ulas mengenai Sehatnya makan dengan tangan kanan dan tiga jari.

Makan menggunakan tangan

Makan adalah kegiatan yang melibatkan indera yang banyak. Indera – penglihatan, penciuman, rasa, sentuhan dan bahkan pendengaran – semuanya terlibat dan bekerja secara harmonis. Tangan, mata dan hidung, memungkinkan sistem pencernaan untuk mempersiapkan apa yang akan kita konsumsi bahkan sebelum makanan mencapai mulut kita.

Saat kita makan menggunakan tangan, akan mendorong kewaspadaan karena memungkinkan kita lebih berkonsentrasi pada makanan dan merasa lebih terhubung dengannya, merasakan tekstur makanan, mencium aromanya dan benar-benar menikmatinya. Hal itu membuat kita makan lebih lambat dan memperhatikan seberapa banyak kita makan. 

Sebuah penelitian menemukan bahwa orang tua mampu membantu anak-anak mereka yang berusia 8 sampai 12 tahun yang kelebihan berat badan mengurangi kebiasaan makan berlebihan dengan melatih mereka makan dengan tangan. Penelitian lain juga menemukan bahwa orang yang makan cengan cepat berhubungan dengan diabetes melitus tipe 2 saat menggunakan alat makan. Hal ini berkaitan dengan ketidakseimbangan gula darah dalam tubuh sehingga berkontribusi terhadap perkembangan diabetes melitus tipe 2.

Makan menggunakan tangan kanan

Secara anatomi dan fisiologi, belahan (hemisfer) otak kiri mengatur sisi kanan tubuh dan sebaliknya. Belahan otak kiri berkaitan dengan proses kognitif, kemampuan mempelajari, analitik, terukur dan menyimpulkan. Sedangkan sisi hemisfer kanan berkaitan dengan hal yang bersifat acak, random, artistik, kreativitas, kenikmatan, dan imajinasi.

Dari fakta di atas, kita dapat menarik pelajaran bahwa makan harus mengedepankan analisis kebutuhan bukan hanya aspek keindahan dan estetika apalagi aspek kenikmatan semata. Kita harus menganalisis jenis, jumlah, serta waktu makan kita apakah sesuai dengan kebutuhan tubuh kita atau tidak. Dari sinilah proses pengendalian diri bermula, menggunakan tangan kanan ketika makan berarti mengedepankan aspek pengendalian diri sesuai kebutuhan dan tidak berlebihan.

Sebaliknya, orang yang terbiasa makan dengan tangan kiri akan lebih memprioritaskan aspek kenikmatan, keindahan, dan estetika makanan ketimbang kebutuhan. Mereka lebih memperhatikan rasa dan emosi. Lahirlah sifat hedonis yang memperturutkan hawa nafsu, lebih mencintai aspek duniawi. Inilah budaya dari Eropa Kontinental dan Amerika yang mengedepankan aspek estetik dan kenikmatan. Mereka makan menggunakan medium pisau dan garpu menggunakan 2 tangan saat makan, tangan kanan dan kiri tidak ada bedanya.

Mereka lebih mencintai makanan daripada mencintai Tuhannya alias lebih mendahulukan kehendak hawa nafsu daripada kehendak Zat Pencipta. – Tauhid Nur Azhar, PhD.

Menurut Rasulullah ﷺ mereka ini adalah golongan pengikut setan:

Di dalam sebuah hadits, dari Salim dari Bapaknya, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,

"Janganlah sekali-kali seseorang diantara kalian makan dan minum dengan tangan kiri, karena setan makan dengan tangan kiri dan minum dengan tangan kiri pula.” (HR Muslim No. 3765)

Sayangnya, kebanyakan orang saat ini, terobsesi dengan makanan yang enak, tampilan estetik dan menarik, bahkan para youtuber menampilkan adab makan yang sangat tidak sesuai dengan ajaran Islam. Cara makan mukbang, menyiarkan makan porsi besar kemudian meng-upload secara online.

Makan dengan Tiga Jari

Selain menggunakan tangan kanan, pengendalian diri via adab makan juga dapat kita lakukan dengan menggunakan tiga jari saja saat makan. Di dalam sebuah hadits, dari Ibnu Ka’ab bin Maalik, dari ayahnya radhiallahu‘anhuma mengatakan bahwa Rasūlullāh ﷺ biasa makan dengan menggunakan tiga jari,

“Rasūlullāh ﷺ makan dengan menggunakan tiga jari, dan Beliau menjilat tangannya sebelum membersihkannya” [HR Muslim No. 3791].

Di dalam Syarah Riyadhus shalihin Juz 7/243, Syeikh Ibnu Utsaimin rahimahullah mengatakan: “Dianjurkan untuk makan dengan tiga jari, yakni jari tengah, jari telunjuk, dan jempol, karena hal tersebut menunjukkan sifat tidak rakus dan ketawadhu’an. Namun hal ini berlaku untuk makanan yang bisa dimakan dengan menggunakan tiga jari...”

Saat kita makan menggunakan tiga jari, jumlah makanan yang masuk ke dalam mulut lebih seimbang jumlahnya dengan jumlah enzim. Kelenjar ludah memproduksi enzim amilase dan lisozim dapat mencerna makanan dengan optimal sehingga makanan menjadi cepat lumat. Sehatnya makan dengan tangan kanan dan tiga jari.

Sumber:

https://bimbinganislam.com/adab-makan-menggunakan-lebih-dari-tiga-jari/

https://www.healthymuslim.com/articles/fygxeafgd-eating-with-your-hands-has-amazing-health-benefits.cfm

https://id.pinterest.com/pin/164592561361886572/

Cara Hidup Sehat Islami, 2015, Tauhid Nur Azhar, Bandung Barat: Tasdiqiya Publisher

Mengunyah Lebih Lama, Bikin Langsing!

<a href="https://www.freepik.com/free-vector/kid-eating-strawberries-concept-illustration_60915312.htm#query=chewing%20food&position=42&from_view=search&track=ais">Image by storyset</a> on Freepik
Image by storyset on Freepik

Kita sering mendengar dari orang tua kita dulu untuk makan jangan terburu-buru. Tetapi, apakah kita mengetahui manfaatnya bagi kesehatan tubuh kita? Ternyata, mengunyah lebih lama bikin langsing loh.

Hadits Rasulullah ﷺ tentang Jangan Makan Tergesa-Gesa

Di dalam satu hadits, Ibnu 'Umar radhiallahu'anhu mengatakan bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Apabila seseorang dari kalian sedang makan janganlah dia tergesa-gesa hingga dia menyelesaikan kebutuhan (makan)-nya sekalipun salat jamaah sedang dilaksanakan." (HR. Al Bukhari No. 633, HR. Muslim No. 868)

Bila tuan rumah atau keluarga kita telah menghidangkan makanan sementara kita sedang dalam kondisi lapar, maka, lebih baik kita makan terlebih dahulu. Faidah dari hadits di atas adalah agar hati kita lebih tenang dan tidak memikirkan makanan saat menunaikan sholat. Namun, kita lebih baik tidak sering melakukan kondisi seperti ini.

Mengunyah Lebih Lama Membantu Makan Lebih Sedikit dan Menurunkan Asupan Kalori

Mengunyah lebih lama bikin langsing dengan cara sebagai berikut. Peningkatan frekuensi mengunyah akan menekan hormon rasa lapar (ghrelin) sekaligus melepaskan hormon kenyang (leptin). Seluruh proses “kenyang” ini memakan waktu 20 menit. Bila kita makan lebih lama dari biasanya, maka memberi waktu otak menerima proses persinyalan kenyang sehingga nafsu makan kita akan menurun sekaligus merasa kenyang lalu berhenti makan.

Mengunyah lebih lama mengurangi perasaan lapar lebih cepat sehingga menekan asupan makanan secara keseluruhan dan menurunkan asupan energi. Sebuah penelitian menunjukkan asupan kalori menurun sebanyak 9,5% ketika kita mengunyah 1,5 kali lebih banyak daripada normal dan menurun 15% saat kita mengunyah 2 kali lebih banyak.

Sebaliknya, makan terlalu cepat dapat mengakibatkan over-eating karena otak tidak memiliki waktu yang cukup untuk memproses rangkaian sinyal lapar-kenyang di atas. Makan terlalu cepat berhubungan dengan risiko obesitas yang lebih tinggi sebesar 115%.

Manfaat Lain Mengunyah Lebih Banyak

Mengunyah lebih lama membantu proses pencernaan lebih sehat karena makanan dilumatkan sampai dengan siap diserap oleh usus.

Menambah kenikmatan makanan yang dimakan

Menambah rasa tenang, tidak terburu-buru, menurunkan stres, dan merasa memegang kendali

Oleh karena itu, aktivitas mengunyah yang meningkat dapat menjadi salah satu modalitas penanganan obesitas.

Saran untuk mengunyah lebih lama

Hindarkan rasa lapar yang berlebih dengan cara mengonsumsi makanan selingan tinggi serat

Frekuensi mengunyah yang dianjurkan adalah 25 kali karena dirasakan lebih nyaman ketimbang harus mengunyah sebanyak 40 kali atau bahkan hanya 10 kali saja.

Letakkan sendok dan garpu saat Anda sedang mengunyah

Campur makanan dengan makanan tinggi serat sehingga membutuhkan waktu lebih lama untuk mengunyah

Matikan layar gadget, hape, televisi. Pusatkan fokus kita hanya pada makanan kita makan.

Sumber: 

https://muslimah.or.id/5532-adab-makan-dan-minum.html

https://time.com/4736062/slow-eater-chew-your-food/

https://www.healthline.com/nutrition/eating-slowly-and-weight-loss#thorough-chewing

Li J, Zhang N, Hu L, Li Z, Li R, Li C, Wang S. Improvement in chewing activity reduces energy intake in one meal and modulates plasma gut hormone concentrations in obese and lean young Chinese men. Am J Clin Nutr. 2011 Sep;94(3):709-16. doi: 10.3945/ajcn.111.015164. Epub 2011 Jul 20. PMID: 21775556.

http://dx.doi.org/10.1016/j.physbeh.2015.07.017

Cara Duduk saat Makan yang Menyehatkan

 

Kami telah membahas mengenai kualitas dan kuantitas makanan pada beberapa tulisan kami sebelumnya. Pada tulisan kali ini, mari kita mengulas tentang adab (cara) duduk saat makan yang menyehatkan bagi seorang Muslim. Satu hal yang pasti adalah kita hendaknya mencontoh teladan kita semua Nabi ﷺ dalam segala hal karena beliau ﷺ adalah teladan yang terbaik bagi kita.

 

Cara Duduk Nabi ﷺ saat Makan

Cara duduk saat makan anjuran para ulama yang menyehatkan

 

Di dalam kitab Sahih-nya, Imam Muslim meriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu yang berkata,

 

رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُقْعِيًا يَأْكُلُ تَمْرًا

 

“Aku melihat Nabi shallallahu’alaihi wasallam duduk iq’a saat makan kurma.” (HR. Muslim No 3807)

 

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah, di dalam Syarh Sahih Muslim, menjelaskan bahwa duduk iq’a adalah menegakkan kedua telapak kaki dan duduk di atas kedua tumitnya. Maksud beliau ﷺ makan seperti itu agar beliau ﷺ tidak tenang saat duduk sehingga tidak makan banyak. Pada umumnya, orang yang duduk iq’a tidak akan tenang saat duduk sehingga tidak banyak makan. Sebaliknya, jika seseorang duduk tenang dan santai maka pada umumnya akan banyak makan. Karena banyak makan tidak pantas dilakukan (bagi seorang muslim).

 

Al Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah juga menegaskan bahwa posisi duduk saat makan adalah duduk dengan bertumpu pada kedua lutut dan kedua punggung telapak kaki atau duduk dengan menegakkan kaki kanan dan menduduki kaki kiri.

 

Jadi, para ulama menganjurkan tiga macam cara duduk bagi seorang Muslim saat makan yang menyehatkan, Biiznillah. Yang pertama adalah duduk iq’a, duduk bertumpu pada kedua lutut dan punggung telapak kaki, dan duduk di atas kaki kiri dan menegakkan kaki kanan.

 

Bagaimana dengan Duduk di Kursi?

"<a

 

Di dalam satu hadits, Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Juhaifah radhiyallahu’anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

 

لَا آكُلُ مُتَّكِئًا

 

“Aku tidak makan sambil duduk itka’.” (HR. Al Bukhari No. 4980)

 

Imam Nawawi mengatakan di dalam Syarh Shahih Muslim, “Makna hadits diatas, ‘Aku tidaklah makan makanan seperti orang yang ingin banyak makan lalu dia mengambil posisi duduk yang nyaman. Namun aku duduk seperti orang yang akan bangkit serta makan sedikit.”

 

Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid hafidzahullah memfatwakan bahwa duduk itka’ adalah semua cara duduk yang bisa membuat tenang dan santai saat makan. Duduk semacam ini mendorong seseorang makan lebih banyak.

 

Lalu, bagaimana dengan kita yang telah terbiasa duduk di kursi saat makan? Dari hadits Nabi ﷺ, para ulama tidak menganjurkan duduk berlama-lama sehingga menjadi santai dan nyaman saat makan. Karena hal itu dapat mendorong kita makan lebih banyak.

 

Penjelasan Ilmiah Cara Duduk Nabi ﷺ

 

Duduk berlutut saat makan diklaim dapat meningkatkan aliran darah ke daerah perut. Posisi ini dapat membantu proses pencernaan dan penyerapan nutrisi makanan dengan lebih optimal. Selain itu, posisi ini membantu kerja saraf vagus lebih baik. Saat makan, lambung akan melepaskan hormon leptin yang akan mengirimkan sinyal ke saraf vagus untuk menginformasikan bahwa kita sudah kenyang. Oleh karena itu, kita tidak akan makan berlebihan.

 

Duduk berlutut di lantai juga dapat meregangkan sendi lutut dan pinggul sehingga menjadi lebih fleksibel. Posisi ini melatih otot postural lebih aktif menjadi tegak membuat punggung dan bahu lebih kuat. Posisi duduk berlutut menjadikan pikiran lebih tenang ketika makan, sehingga Anda bisa lebih menikmati makanan dan tidak makan berlebihan.

 

Berjalan 2 Menit setelah Makan, Menyehatkan Loh

 

Dari penjelasan ulama di atas, Nabi ﷺ memposisikan duduk beliau seperti akan segera bangkit berdiri lalu berjalan. Ternyata aktivitas ini memberi manfaat bagi kesehatan tubuh. Di dalam suatu penelitian meta-analisis, peneliti menemukan bahwa berjalan ringan setelah makan setidaknya hanya selama 2 – 5 menit dapat menurunkan kadar gula darah. Para peneliti membandingkan efek berjalan tersebut dengan kegiatan lainnya seperti posisi duduk atau bersandar di sofa. Berjalan dengan intensitas ringan memerlukan kerja aktif dari beberapa otot kaki daripada sekadar berdiri. Berjalan pun menggunakan bahan bakar dari makanan di saat yang sama bahan bakar tersebut banyak tersedia di dalam darah. Oleh karena itu, otot dapat memanfaatkan kelebihan glukosa yang kita konsumsi.

 

Ketika subyek penelitian diminta berjalan setelah makan, maka peneliti mendapatkan kadar gula darah mereka meningkat lalu turun secara bertahap. Kondisi tersebut juga dapat menstabilkan kadar insulin. Secara jangka panjang, manfaat berjalan setelah makan adalah mencegah penyakit diabetes melitus tipe 2 dan menjaga kesehatan jantung.

 

Kegiatan ini dapat lebih bermanfaat dalam menurunkan kadar gula darah dalam jangka waktu 60 – 90 menit setelah makan. Menurut dr. Kershaw Patel, seorang preventive cardiologist, usaha aktivitas fisik sekecil apa pun akan memberi manfaat meski hanya sebuah langkah yang ringan.

 

Kesimpulan

 

Dari ulasan singkat di atas kita dapat menyimpulkan bahwa Nabi ﷺ duduk berlutut saat makan dengan posisi seperti orang yang akan segera bangkit berdiri lalu berjalan. Posisi duduk berlutut memiliki banyak manfaat bagi kesehatan seperti membantu proses pencernaan dan penyerapan makanan sekaligus mencegah makan lebih banyak serta menguatkan persendian tubuh. Aktivitas berdiri dan berjalan setelah makan ternyata juga memberikan manfaat menurunkan kadar gula darah dan menstabilkan horomon insulin. Secara jangka panjang, dapat mencegah diabetes melitus tipe 2, menjaga kesehatan jantung. Nabi ﷺ telah melaksanakannya sejak 1400 tahun yang lalu. Allahu Akbar!

 

Posisi duduk berlutut saat makan dengan posisi seperti orang yang akan segera bangkit berdiri lalu berjalan seolah menunjukkan bahwa Nabi ﷺ “tidak senang” berlama-lama dan memperbanyak makan. Sangat kontras dengan kita di zaman sekarang. Kebanyakan orang saat ini justru senang dengan “wisata kuliner”. Berlama-lama “menikmati” makanan bahkan ber-“selfie” dengan makanan tersebut lalu up-date status. Subhanallah. Mari kita perbaiki diri kita dan orang-orang terdekat di sekitar kita untuk terus melaksanakan Sunnah Rasulullah ﷺ yang nyata-nyata membawa manfaat bagi dunia dan akhirat.

 

Sumber:

https://wanitasalihah.com/3-posisi-duduk-yang-dianjurkan-ketika-makan/

https://muslimah.or.id/5532-adab-makan-dan-minum.html

https://brightside.me/articles/why-people-in-japan-sit-on-the-floor-to-eat-801355/

https://edition.cnn.com/2020/07/29/health/floor-sitting-benefits-wellness-partner/index.html

https://link.springer.com/article/10.1007/s40279-022-01649-4

https://www.nytimes.com/2022/08/04/well/move/walking-after-eating-blood-sugar.html

 

Suka Makan Mie Instan? Hati-hati Sindrom Metabolik!

<a href="https://www.freepik.com/free-photo/bottom-view-chopsticks-asian-ramen-noodles-bowl-dark-table-waribashi_17250113.htm#query=noodle&position=33&from_view=search&track=sph">Image by KamranAydinov</a> on Freepik
Image by KamranAydinov on Freepik

Anda suka makan mie instan? Hati-hati sindrom metabolik. Berbagai kalangan masyarakat, dari segala usia maupun kelas ekonomi sangat menggemari makanan ini. Harganya yang terjangkau, kemudahan memperolehnya di manapun, dan kemudahan penyajiannya menjadikannya makanan sejuta umat. Hal ini terbukti dari tingkat konsumsi mie instan yang meningkat sebanyak 990 juta bungkus di tahun 2022. Namun, konsumsi mie instan berhubungan dengan sindrom metabolik.

Kandungan Mie Instan

Mie instan mengandung kalori yang rendah. Para produsen juga memproduksi mie instan dan memfortifikasi dengan zat besi dan vitamin B. Namun, kebanyakan merk mie instan yang beredar di pasaran masih mengandung sedikit nutrien penting seperti protein, vitamin A, vitamin C, vitamin B12, kalsium, magnesium, kalium dan serat.

100 gram mie instan mengandung garam 4 kali lipat kandungan yang direkomendasikan WHO. Kementerian Kesehatan Indonesia pun merekomendasikan paling banyak konsumsi 1 sendok teh garam (setara 5 gr) per hari yang juga setara dengan 2 gr natrium. Kelebihan konsumsi natrium dapat berhubungan dengan hipertensi, penyakit jantung dan ginjal.

Sebagaimana makanan instan lainnya, mie instan pun mengandung pengawet dan penyedap makanan. Produsen mie instan menggunakan TBHQ (tertiary butylhydroquinone) sebagai salah satu bahan pengawet. Konsumsi TBHQ tidak berbahaya dalam kadar kecil. Namun, pada penelitian hewan uji coba, konsumsi secara jangka panjang dapat memengaruhi kerusakan jaringan syaraf, meningkatkan risiko limfoma, dan pembesaran liver. Pada uji coba laboratorium, bahan pengawet ini dapat merusak DNA manusia.

Sebagaimana makanan instan lainnya, mie instan juga mengandung MSG (monosodium-glutamat) yang berperan sebagai penyedap makanan. Pada orang yang memiliki sensitivitas MSG, akan mengalami keluhan pusing, mual, hipertensi, kelemahan dan kram otot.

Mie Instan dan Sindrom Metabolik

Sindrom metabolik adalah suatu kumpulan dari tiga atau lebih gejala penyakit berikut: obesitas abdominal (buncit), darah tinggi, hiperglikemia (gula darah tinggi), hipo-HDL (kadar HDL rendah), atau hipertrigliseridemia (kadar trigliserida yang tinggi). Sindrom metabolik berhubungan dengan banyak penyakit degeneratif seperti panyakit jantung, stroke, diabetes, dan ginjal. Sebuah penelitian terbaru (2023) pada 72.000 subjek penelitian menunjukkan bahwa adanya hubungan kausalitas (sebab-akibat) antara konsumsi mie instan dan penyakit sindrom metabolik.

Para peneliti menemukan bahwa subjek dengan asupan mie instan yang tinggi mengonsumsi lebih sedikit karbohidrat, lebih tinggi zat lemak, protein dan natrium serta lebih sedikit kalsium, vitamin D, vitamin C, dan flavonoid mengindikasikan kualitas makanan secara keseluruhan yang buruk.

Penelitian tersebut menunjukkan bahwa orang dewasa yang mengonsumsi mie instan >= 130 gram per hari dengan frekuensi >= 3 kali per pekan berkaitan dengan glisemik indeks yang lebih tinggi dan secara positif berkaitan dengan 34% risiko lebih tinggi menderita sindrom metabolik.

Konsumsi Mie Instan dengan “Lebih” Sehat

<a href="https://www.freepik.com/free-photo/thai-food-noodles-spicy-boil-with-pork-boil-egg_10991281.htm#query=noodle&position=7&from_view=search&track=sph#position=7&query=noodle">Image by jcomp</a> on Freepik
Image by jcomp on Freepik

Kami mengutip sebuah artikel, bila memang kegemaran mengonsumsi mie instan sudah kuat, ada beberapa cara membuat mie instan kita “lebih menyehatkan”.

    • Kita dapat menambah sayuran seperti sawi, jamur, wortel, brokoli dan bawang dapat membantu menambah serat dan nutrien yang tidak terkandung pada mie instan.
    • Menambah protein sehat seperti daging ayam, ikan, tahu, atau telur sehingga dapat membantu rasa kenyang lebih lama
    • Mengurangi penyedap rasa bubuk yang disediakan dapat menurunkan konsumsi kadar natrium dan MSG.
    • Mengganti bumbu kuah mie instan dengan kuah kaldu buatan sendiri yang lebih alamiah dan menyehatkan
    • Prof. Frank Hu dari Universitas harvard menganjurkan untuk menjarangkan konsumsi mie instan menjadi hanya 1-2 kali per BULAN ketimbang 1-2 kali per pekan.

Sumber

https://www.mdpi.com/2072-6643/15/9/2091

https://www.healthline.com/nutrition/ramen-noodles#nutrition

https://www.hsph.harvard.edu/news/hsph-in-the-news/instant-noodle-consumption-linked-to-heart-risk-in-women/

https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2023/05/25/jumlah-konsumsi-mi-instan-di-indonesia-meroket-semenjak-pandemi-covid-19

Makanan Kemasan Bikin Nagih?

Image by Freepik
Image by Freepik

Setiap kali kita mengonsumsi makanan kemasan, satu sampai dua kali suapan terasa tidak cukup. Tanpa kita menyadarinya, tangan kita terus saja merogoh makanan di dalam kemasan itu. Memangnya makanan kemasan bikin nagih? Betul. Ternyata produsen makanan kemasan mendesain (membuat) makanan kemasan dengan tujuan agar konsumen "tidak berhenti" mengonsumsi produk mereka. Berikut penjelasannya.

Alasan Ilmiah Kenapa Makanan Kemasan Terasa sangat Enak

Image by Kerfin7 on Freepik
The image of the human brain

Industri makanan dan minuman kemasan siap saji mengenal istilah bliss point (titik bahagia). Bliss point adalah titik terenak dan ternyaman yang dipersepsi pengecapan lidah kita saat mengonsumsi produk makanan kemasan. Bliss point sebenarnya adalah keseimbangan rasa asin dari garam, gurih dari lemak dan manis dari gula yang menimbulkan persepsi enak tadi.

Saat kita makan makanan enak, otak akan mengaktifkan suatu sirkuit penghargaan (reward). Rasa enak menimbulkan reward berupa pengeluaran endorfin (hormon bahagia). Akan terjadi serbuan kimia yang membanjiri otak dengan kesenangan sehingga otak akan menciptakan lebih banyak reseptor untuk dopamin sebagai respons. Dopamin (hormon yang memicu ketagihan) akan mendorong kita terus "mencari" reward bahagia.

Sehingga sirkuit reward akan terjadi terus menerus. Inilah penjelasan makanan kemasan bikin nagih.

Kombinasi ketiga bahan makanan tadi yang secara sinergis memicu dopamin, bukan salah satunya. Aplikasi bliss point ini sebenarnya mendapatkan kritik karena diduga berhubungan dengan perilaku adiksi konsumsi makanan kemasan.

Dengan cara yang sama seperti orang dengan kecanduan narkoba atau alkohol membutuhkan dosis yang lebih besar dari waktu ke waktu, kita menginginkan lebih banyak junk food semakin banyak Anda memakannya.

Kenapa bisa berbahaya?

Pada tulisan kami sebelumnya, bahaya di balik konsumsi makanan kemasan bagi kesehatan dapat timbul akibat:

Konsumsi berlebihan (over-consumption) makanan kemasan karena sifat makanan kemasan yang hiperpalatabel, sangat terasa enak. Hal tersebut dapat menimbulkan gangguan “sinyal lapar-kenyang” (ketidakseimbangan antara hormon leptin dan ghrelin). Salah satu dampak yang timbul adalah asupan pangan bernutrisi tinggi menjadi turun. Seringkali makanan kemasan siap saji mengandung kalori yang tinggi, lemak-trans, karbohidrat olahan, gula olahan, sedang “isi” nutrisinya rendah.

Selain itu, makanan kemasan nyaman dan mudah langsung dikonsumsi. Kampanye pemasaran makanan kemasan sangat pervasif (sangat mengena) dan persuasif.

Makanan kemasan juga masih dapat mengandung substansi berbahaya dampak pemrosesan, seperti kontaminan sampingan dari proses suhu tinggi, bahan aditif yang mengganggu komposisi mikrobiota usus dan memicu inflamasi, serta komponen perusak keseimbangan hormonal dari kemasan makanan.

Bagaimana Menghindarinya?

<a href="https://www.freepik.com/free-vector/fatty-man-rejecting-fast-food-cartoon_5467521.htm#page=2&query=stop%20eating%20junk%20food&position=39&from_view=search&track=ais">Image by vectorpocket</a> on Freepik
Image by vectorpocket on Freepik

Lalu, bagaimana sebaiknya kita bersikap? Terdapat dua strategi yang sebaiknya dilakukan bersamaan. Secara global berkaitan dengan pemangku kebijakan.

    • Pemerintah dapat mengeluarkan kebijakan fiskal berupa pungutan (pajak) makanan dan minuman ultra-proses serta junk food yang terbukti efektif menekan penjualannya;
    • Pencantuman label peringatan pada kemasan depan (front-of-package) dengan lebih ketat;
    • Pengaturan cara-cara pemasaran agar tidak langsung menyasar anak-anak usia sekolah;
    • Perlindungan lingkungan sekolah dengan program terstruktur;
    • Kebijakan komprehensif lainnya yang telah diterapkan pemerintah Chile mampu mengubah norma sosial dan kultural seputar isu ini sehingga menurunkan permintaan makanan ultra-proses.

Tugas kita adalah secara individu, kita harus mengedukasi diri kita dan keluarga mengenai masalah ini. Terapkan langkah-langkah berikut:

    • Rencanakan makanan dan kudapan Anda sebelumnya. Anda memutuskan apa yang Anda makan berdasarkan kebutuhan nutrisi, bukan berdasarkan apa yang tersisa di lemari makan Anda. Perencanaan ke depan juga membantu Anda menjaga anggaran dan membuat belanja lebih mudah.
    • Pilih buah segar untuk pencuci mulut daripada junk food untuk menghindari tambahan garam, gula, dan lemak jenuh.
    • Periksa nilai nutrisi makanan Anda pada informasi nutrisi di bagian belakang kemasan.
    • Hati-hati dengan 'trik' iklan, termasuk klaim bahwa suatu produk 'low sugar', karena masih bisa tinggi kalori, garam, atau lemak. Misal, suatu produk mengklaim “low fat” padahal “hanya” lebih sedikit lemak daripada versi aslinya - tetapi mungkin masih tinggi lemak.

Kesimpulan

Sebagai seorang dari bagian komunitas muslim, sudah seyogianya kita menerapkan tuntunan Islam di dalam keseharian kita. Kita diperintahkan untuk memilah dan memilih makanan yang halal dan terbaik bagi kesehatan kita.

    • QS. Abasa: 24

“maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya

    • QS. Al Baqarah: 168

“Wahai manusia! Makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti Langkah-Langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu.”

Sumber:

https://globalfoodresearchprogram.org/wp-content/uploads/2021/04/UPF_ultra-processed_food_fact_sheet.pdf 

https://en.wikipedia.org/wiki/Bliss_point_(food)#References

Bahaya di Balik Makanan Kemasan Siap Saji

<a href="https://www.freepik.com/free-ai-image/abundance-healthy-food-choices-supermarket-aisle-generated-by-ai_43160959.htm#fromView=search&term=groceries+store&page=1&position=1">Image By vecstock</a>
Image By vecstock

Sekitar 50 sampai dengan 100 tahun lalu, mungkin nenek dan kakek buyut kita lebih banyak mengonsumsi makanan asli (real food) ketimbang makanan olahan apalagi makanan kemasan siap saji. Revolusi tekonologi pangan dan penjualan retail modern dalam 60 tahun belakangan ini mengakibatkan ledakan pertumbuhan produksi dan konsumsi makanan olahan. Makanan olahan telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari gaya hidup masyarakat saat ini. Di mini market, kita melihat jajaran makanan dan minuman kemasan di rak pajang dengan aneka kemasan yang menarik. Namun, ternyata terdapat lebih dari 10 bahaya di balik makanan kemasan siap saji yang dikonsumsi secara terus menerus?

Klasifikasi Pemrosesan Makanan

Penting untuk mengetahui klasifikasi makanan berdasarkan tingkat pemrosesannya (di dalam industri pangan) sebelum dikonsumsi oleh manusia. Hal ini berkaitan dengan jenis kelompok makanan yang lebih berdampak bagi kesehatan. FAO menggunakan klasifikasi NOVA.

Kelompok 1 – makanan tanpa pemrosesan atau pemrosesan minimal

Makanan tanpa pemrosesan adalah bagian yang dapat dimakan baik dari tumbuhan maupun hewani (biji-bijian, kacang-kacangan, buah-buahan, dedauan, batang, akar, telur, susu). Tujuan kelompok ini pada umumnya untuk menyingkirkan bagian yang tidak dapat dimakan, tujuan menyimpan makanan, dan proses memasak demi keamanan dan kenyamanan sebelum dimakan. Biasanya proses memasak sederhana di rumah dan restoran termasuk ke dalam kelompok ini. Tanpa keterlibatan proses industri.

Kelompok 2 – pemrosesan komposisi/bahan pangan

Pabrik memproses kelompok makanan ini untuk digunakan bersama dengan pangan kelompok 1 sebagai bumbu. Contoh makanan kelompok ini adalah gula, garam, minyak, mentega. Proses industri yang terlibat misalnya adalah penyulingan, penggilingan, penggerusan, dan pemurnian.

Kelompok 3 – pemrosesan makanan alami

Kelompok ini adalah makanan alami yang mengalami pemrosesan dengan menambah pangan kelompok 2 ke dalam kelompok 1 dengan tujuan daya tahan produk atau modifikasi rasa melalui pengawetan, fermentasi, asinan atau manisan. Contoh produk kelompok ini adalah: asinan / manisan buah, keju, daging kalengan, daging asap.

Kelompok 4 – makanan kemasan cepat saji atau makanan ultra-proses

FAO mengkategorikan makanan kemasan siap saji ke dalam kelompok makanan ultra-proses (ultra-processed food = UPF)

Kita dapat menyebut makanan kemasan siap saja dengan makanan “formulasi pabrik” yang mengandung sedikit sekali atau tanpa kandungan pangan asli. Hal itu terlihat pada daftar panjang komposisi bahan di kemasannya. Kita tidak akan mendapatkan bahan-bahan pembuat makanan kemasan di dapur rumah  kita. Kita dapat menemukan komposisi bahan tambahan yang sifatnya “kosmetis”. Pabrik menggunakan bahan tersebut untuk tampilan warna, mengemulsi, atau memunculkan rasa pangan asli atau bahkan menyamarkan kualitas akhir produk. Hasilnya adalah pangan yang hiper-palatable (sangat enak di lidah). Seluruh proses tersebut biasanya melalui lebih dari 1 tahap industrial. Tujuannya tidak lain untuk menghasilkan “pangan baru” menggantikan pangan lainnya demi mencari keutungan setinggi-tingginya.

Makanan kemasan siap saji atau makanan ultra-proses memiliki sinonim dengan junk-food. Junk-food adalah makanan dengan kandungan nutrisi, vitamin, mineral yang rendah, dengan energi, garam, gula, dan lemak yang tinggi. Jika kita mengonsumsi junk-food dalam jumlah besar dan menjadi kebiasaan harian, maka junk-food tidak memiliki peran apa pun di dalam pola makan yang sehat.

Contoh: makanan ringan (snack), biscuit, makanan instan (mie), makanan siap santap kemasan, permen, minuman ringan (soda, kemasan)

Trend Konsumsi Makanan Kemasan Siap Saji

Sebuah lembaga independen di Eropa, Euromonitor, mengamati total volume penjualan makanan ultra-proses per kapita dari 80 negara sejak 2002─2016 serta mencocokannya dengan indeks massa tubuh (IMT). Hasilnya menunjukkan:

Asia Tenggara dan Asia Selatan adalah kawasan dengan peningkatan volume penjualan makanan ultra-proses paling tinggi sebesar 67,3%. Peningkatan volume penjualan minuman ultra proses paling pesat masih di negara2 Asia Tenggara dan Asia Selatan (120%)!

Peningkatan volume penjualan per kapita pangan dan minuman ultra-proses secara positif berhubungan dengan peningkatan IMT di tingkat populasi.

Penduduk negara maju, seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Kanada, mengonsumsi makanan ultra-proses lebih dari setengah total kalori harian yang mereka butuhkan.

Bahaya di Balik Makanan Kemasan Siap Saji

Satu penelitian dengan bukti yang kuat menunjukkan pabila kita mengonsumsi makanan kemasan siap saji dalam jumlah banyak secara terus-menerus, maka terdapat bahaya sebagai berikut:

Dalam jangka pendek, dapat berefek samping pada kesehatan dan kebugaran secara umum karena:

    • Meningkatkan stres dan tidak bersemangat
    • Rasa kelelahan meningkat karena tingkat energi yang menurun
    • Sulit tidur
    • Sulit fokus dan konsenstrasi
    • Gigi keropos

Dalam jangka panjang, penelitian menunjukkan:

Dapat terjadi over-konsumsi yang mengakibatkan peningkatan berat badan (obesitas) dengan risiko sebesar >39%

    • Risiko penyakit pembuluh darah seperti: hipertensi, hiperkolesterolemia serta penyakit jantung meningkat risikonya sebesar > 30%
    • Penyakit diabetes, kanker, bahkan depresi meningkat risikonya masing-masing sebesar  50%, 12%, dan 20%;
    • Kejadian kerentaan di mana fungsi fisik tubuh menurun lebih cepat sehingga membutuhkan pendampingan perawat lansia dapat meningkat 300%!
    • Kematian dini (kematian antara usia 30 – 70 tahun), penyebab kematian apa pun meningkat > 28% dan akibat penyakit jantung meningkat 50%.
 

Di tulisan berikut, kami akan membahas mengenai mekanisme kenapa bisa berbahaya dan bagaimana cara menghindarinya.

Sumber:

https://www.globalfoodresearchprogram.org/wp-content/uploads/2021/04/UPF_ultra-processed_food_fact_sheet.pdf 

https://nutritionfacts.org/video/ultra-processed-junk-food-put-to-the-test/#transcript

Gula Aren Lebih Sehat dari Gula Pasir, Mitos atau Fakta?

<a href="https://www.freepik.com/free-photo/top-view-white-brown-sugar-cubes-scattered-from-glass-jars-dark-wooden-background_8897778.htm#query=palm%20sugar%20and%20cane%20sugar&position=47&from_view=search&track=ais">Image by stockking</a> on Freepik
Image by stockking on Freepik

Sebagian masyarakat kita meyakini bahwa gula aren lebih sehat daripada gula pasir. Bagaimana pembahasannya? Mari kita saksikan video penjelasannya. Video sesi tanya jawab online bersama Yayasan HSI Berbagi pada hari Sabtu, 12 Agustus 2023.

Gula Pasir

    • Gula pasir/putih berasal dari tanaman tebu
    • Gula tebu mentah sebenarnya tidak perlu di-rafinasi krn sudah terasa manis
    • Rafinasi gula menyingkirkan molasse (by-product rafinasi gula tebu): sehingga gula berwarna putih kristal dengan kemurnian > 99,7%
    • Dari sisi nutrisi, gula putih tidak mengandung nutrien, seperti kalsium, kalium, zat besi, dan Mg, sebagaimana pada gula coklat (yg masih mengandung sedikit molasse)
      • Gula pasir hanya murni sukrosa (disakarida glukosa + fruktosa), yang merupakan karbohidrat sederhana
      • Pengaruh konsumsi gula terhadap penyakit tidak menular: peningkatan insidensi resistensi insulin, hyperinsulinemia, DMT2, jantung koroner

Gula Aren

    • Gula aren dibuat secara alami dari sadapan kelapa yang dikeringkan
    • Gula aren mengandung “sedikit” nutrien: zat besi, kalsium, kalium, polifenol, anti-oksidan
    • Meskipun demikian, Indeks Glisemik gula arena lebih rendah dari gula pasir, karena adanya serat inulin
    • Kandungan kalori yang tinggi = gula pasir
    • Benefit nya tertutupi dengan kadar gula nya yang tinggi

Kesimpulan

  • Walaupun gula aren lebih alami daripada gula pasir: tetap saja GULA
  • Gunakan sedikit saja
  • Gunakan dengan frekuensi jarang
  • Lebih baik lagi TANPA GULA
  • Bila tetap ingin manis, gunakan manis dari buah (tetap tidak terlalu banyak)
 

Sumber:

Dampak Gula bagi Kesehatan, Tidak Semanis Rasanya

Image by jcomp on Freepik
Image by jcomp on Freepik

Sebuah penelitian langsung pada subyek manusia (uji klinik) di University of California Davis menunjukkan dampak konsumsi minuman berpemanis gula fruktosa pada kesehatan adalah meningkatkan penumpukan lemak di liver, peningkatan kadar trigliserida, kadar asam urat, penurunan oksidasi (pembakaran) asam lemak, serta resistensi insulin.

Hasil penelitian tersebut ternyata sesuai dengan sebuah studi meta-analisis yang cukup baru. (Studi meta-analisis adalah penelitian yang mengumpulkan banyak hasil penelitian lain untuk kemudian ditarik sebuah kesimpulan umum.) Hasil meta-analisis tersebut menyebutkan bahwa konsumsi tinggi gula tambahan berhubungan secara signifikan dengan 45  jenis dampak kesehatan, seperti: seperti: kegemukan, akumulasi lemak di otot dan liver, diabetes melitus, asam urat tinggi, darah tinggi, serangan jantung, stroke, kanker, asma, depresi, sampai pada gigi berlubang bahkan kematian dini. Para peneliti meta-analisis tersebut menyimpulkan bahwa konsumsi tinggi gula tambahan lebih besar efek buruknya ketimbang manfaat bagi tubuh, khususnya penyakit kardiometabolik.

Bacalah Informasi Komposisi Makanan Kemasan akan Gula Tambahan!

Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan himbauan kepada masyarakat agar selalu perhatian terhadap komposisi makanan dan minuman kemasan. Urutan komposisi makanan yang disebut terlebih dulu merupakan komposisi yang terbanyak pada produk tersebut. Contohnya: sebuah produk sirup mengandung komposisi air, gula (sukrosa), dan seterusnya berarti komposisi terbanyak sirup itu adalah air kemudian gula sebagai komposisi kedua terbanyak.

Produsen memakai berbagai cara untuk “menyamarkan” gula tambahan dalam produk mereka. Sebuah artikel menyebutkan tambahan gula yang ada di dalam makanan atau minuman kemasan terdapat 56 macam nama gula! Contohnya gula (sukrosa), komponen yang berawalan dengan sirup, komponen yang berakhiran dengan -osa, termasuk gula-gula alkohol. Mereka juga memberi nama gula tambahan dengan “gula sehat”. Hati-hati dengan produk dengan klaim “menyehatkan”, seperti: “alami”, “rendah-lemak”, “rendah-gula”, “diet” atau bahkan “bebas-gula”. Tetaplah baca kandungan komposisi produk tersebut.

Kita juga dapat menemukan gula tambahan di dalam produk yang tidak terasa manis, seperti saus, yogurt rendah lemak, sereal kemasan, atau roti-roti tawar. Para produsen terkadang menambahkan gula tambahan pada minuman yang mengandung karbohidrat alami sehingga menambah kandungan karbohidrat total, seperti minuman susu berperisa.

Gula tambahan pada makanan dan minuman kemasan seringkali sulit kita deteksi secara tekstual. Pada akhirnya, kitalah yang memutuskan apakah produk itu perlu kita konsumsi atau tidak. Cara yang paling mudah mengurangi gula tambahan adalah dengan tidak membeli dan mengonsumsi makanan atau minuman kemasan itu sendiri. Pilihlah makanan utuh yang masih alami dengan sedikit pemrosesan. Apabila memang harus membeli makanan kemasan, bacalah kemasannya!

 

Pengganti Gula Pasir

Kebanyakan orang mulai menggunakan sumber gula alamiah lain atau gula sintetik yang “lebih sehat” daripada gula pasir. Berdasarkan tulisan sebelumnya, terdapat 2 sumber karbohidrat gula:

    • Kita dapat menemukan karbohidrat alami di dalam susu dan produk susu (laktosa), buah (fruktosa), dan zat pati serta serat (berupa polisakarida). Fruktosa pada buah-buahan tidak terkait dengan dampak buruk pada kesehatan. Benefit kesehatan konsumsi buah jauh melebihi potensi efek negatif konsumsi kandungan fruktosa alaminya. Kandungan buah yang tinggi akan serat, vitamin, mineral, dan antioksidan menyebabkan fruktosa buah aman untuk dikonsumsi.
    • Karbohidrat/gula tambahan (added sugar) yang biasa ditambahkan pada masakan atau minuman kita, dan makanan serta minuman kemasan. Kebanyakan dalam bentuk disakarida, jenis gula sederhana yang sangat mudah diserap oleh tubuh kita. Jenis ini adalah gula yang sebaiknya dibatasi konsumsinya.

Karbohidrat total adalah kandungan kedua jenis gula alami dan gula tambahan.

Gula Alamiah

Bahan alamiah selain gula pasir, antara lain: steviol glikosida dari daun stevia, monk fruit atau yang dikenal dengan nama luo han guo atau Siraitia grosvenorii, sumber manis lainnya seperti kurma, madu, gula aren, puree buah, sirup mapel, atau molasse. Meski tidak semanis gula pasir, tetap batasi penggunaannya.

Gula Sintetik

Salah satu cara untuk memulai penggantian gula pasir adalah menggunakan pemanis artifisial. Nama-nama lain dari gula sintetik antara lain: pemanis rendah kalori, pemanis non-nutritif, pemanis artifisial, pemanis buatan, pengganti gula, pemanis intensitas-tinggi, NSS (non-sugar sweeteners) pemanis non-gula. Terkadang makanan dan minuman dengan label “sugar-free” atau “diet” mengandung komponen pemanis buatan ini. Atau terkadang orang menggunakan pemanis buatan sebagai pemanis umum. Yang termasuk golongan pemanis buatan adalah: Aspartam, Asesulfam-K, Sakarin, Sukralosa, Neotam, Advantam.

 Gula alkohol atau polyol

Yang termasuk golongan ini adalah sorbitol, xylitol, lactitol, mannitol, erythritol, and maltitol. Kita dapat menemukan gula jenis ini pada permen free-sugar, makanan dan minuman kemasan, serta pasta gigi dan obat sirup. Jenis-jenis gula sintetik pada umumnya tidak menaikkan gula darah secara signifikan sehingga banyak orang senang menggunakannya. Pemanis artifisial dapat meningkatkan risiko penyakit diabetes melitus tipe 2, penyakit jantung, dan tingkat kematian (mortalitas).

 
<a href="https://www.freepik.com/free-photo/word-no-made-sugar-cup-coffee-pink-background-flat-lay_33379253.htm#query=stop%20sugar&position=3&from_view=search&track=ais">Image by pvproductions</a> on Freepik
Image by pvproductions on Freepik

Jadi, Seberapa Batasan Konsumsi Gula?

Semakin banyak penelitian menunjukkan konsumsi gula yang berlebihan berhubungan dengan dampak kesehatan yang kurang baik. Oleh karena itu, badan kesehatan dunia (WHO), para peneliti kesehatan, serta pemerintah Indonesia sendiri telah mengeluarkan panduan mengenai konsumsi gula tambahan.

Terkait dengan gula artifisial, WHO menyatakan: “Kita harus menyadari bahwa tujuan sebenarnya mengganti pemanis gula pasir adalah pola makan yang sehat secara keseluruhan. Jadi, apabila hanya mengganti gula pasir dengan pemanis buatan tanpa me-“revolusi” pola makan yang sehat, kurang berdampak baik pada kualitas makanan. Pemanis alami, seperti buah-buahan serta makanan dan minuman yang mengalami pemrosesan minimal adalah pilihan terbaik sumber pemanis .”

          Beberapa catatan dari WHO yang harus menjadi perhatian kita adalah:
    • Pemanis artifisial tidak bisa digunakan sebagai metode menurunkan berat badan atau mencegah timbulnya penyakit kronis seperti diabetes, jantung, darah tinggi dan lain-lain.
    • Badan Kesehatan Dunia menganjurkan anak-anak tidak mengonsumsi minuman berpemanis buatan karena efek yang belum diketahui. Efek negatif pada dewasa dikuatirkan justru meningkat pada anak-anak.
    • Orang dewasa yang sedang berusaha mengganti konsumsi minuman berpemanis gula, dapat menjadikan pemanis artifisial sebagai pengganti sementara untuk mengurangi asupan gula.
    • Kita harus mengutamakan air tawar, air karbonasi, atau air berperisa tanpa pemanis sebagai pilihan utama selain minuman berpemanis artifisial.

Para peneliti memberikan rekomendasi konsumsi gula total tidak lebih dari 25 g / hari (kira-kira 6 sendok teh / hari) sekaligus membatasi konsumsi minuman kemasan berpemanis  kurang dari 1 sajian per pekan (kira-kira 200-355 ml / pekan). Para peneliti mengharapkan efek kurang sehat konsumsi gula berlebih pada tubuh dapat berkurang dari pembatasan tersebut.

Kementrian Kesehatan Indonesia pun mengeluarkan rekomendasi serupa di dalam PMK No. 41 tahun 2014 tentang Pedoman Gizi Seimbang bahwa konsumsi gula, baik gula pasir maupun gula pada makanan atau minuman kemasan, sebaiknya tidak lebih dari 50 gr / hari (4 sendok makan / hari).

Kesimpulan

Kesimpulannya, untuk meminimalisir dampak konsumsi gula pada kesehatan, pilihan terbaik adalah untuk tidak mengonsumsi gula / pemanis sama sekali. Namun, apabila lidah kita masih merindukan rasa manis, pilihlah manis dari rasa buah-buahan alami atau makanan dan minuman dengan pemrosesan minimal. Kita boleh menggunakan pemanis sintetik secara jangka pendek dengan tujuan utama kita mengarah pada pola makan yang lebih sehat. Konsumsi gula pasir atau makanan dan minuman kemasan berpemanis adalah pilihan terakhir yang harus kita batasi jumlahnya sesuai dengan rekomendasi para ahli.

Wallahu a’lam.

 

Sumber:

https://edition.cnn.com/2023/04/05/health/added-free-sugars-health-effects-study-wellness/index.html#:~:text=In%20a%20large%20review%20of,decay%2C%20depression%20and%20early%20death.

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC10074550/

https://www.healthline.com/nutrition/56-different-names-for-sugar?utm_source=ReadNext#What-is-added-sugar?

https://www.healthline.com/nutrition/8-ways-sugar-is-hidden

https://www.heart.org/en/healthy-living/healthy-eating/eat-smart/sugar/sugar-101#.WsuvJCOZM6U

https://www.healthline.com/nutrition/natural-sugar-substitutes#Why-you-should-lower-your-added-sugar-intake

https://www.hsph.harvard.edu/nutritionsource/healthy-drinks/artificial-sweeteners/