Pos Sehat Al Huda, Jl. Sukarajin I Kota Bandung
+6285798493023

Sekilas tentang Herbal (Pangan Fungsional)

Image by <a href="https://www.freepik.com/free-photo/top-view-natural-medicinal-spices-herbs_11375834.htm#&position=0&from_view=user&uuid=bc1295a7-4f77-4df8-8352-787bc9aee21e">Freepik</a>
Image by Freepik

Pada artikel ini, akan kita membahas sekilas tentang herbal (pangan fungsional). Masyarakat awam mengenal tanaman yang berfungsi mengobati dengan istilah herbal. Berdasarkan KBBI, herbal adalah hal-hal yang berkaitan dengan herba. Sedangkan herba sendiri adalah tumbuhan yang daun, bunga, atau akarnya dapat digunakan untuk bumbu makanan, obat-obatan, atau parfum. Berdasarkan ilmu gizi, kita mengenal pula pangan (makanan) fungsional.

Firman Allah ﷺ

Allah Subhanallahu Wata’ala berfirman di dalam QS Abasa ayat 29:

 “dan zaitun dan pohon kurma”

Allah Subhanallahu Wata’ala menyebutkan tentang zaitun karena yang memiliki manfaat antara lain kita dapat memanfaatkannya selain sebagai makanan buah, juga dapat kita manfaatkan sebagai minyak dan obat. Kemudian Allah Subhanallahu Wata’ala menyebutkan pohon kurma karena kurma bisa menjadi makanan pokok, juga bisa menjadi buah-buahan. kita juga dapat menyimpan kurma sebagai makanan pokok.

Allah telah menganugerahkan kepada kita berbagai macam pengobatan alamiah yang terkandung di dalam makanan.

Pengertian pangan fungsional

Pangan fungsional adalah substansi makanan atau bagian makanan yang memberikan manfaat bagi kesehatan, baik mengobati maupun mencegah penyakit. Beragam jenis pangan fungsional mulai dari zat makanan terisolasi, suplemen makanan, jenis diet spesifik, sampai dengan modifikasi genetik makanan yang (GMO) termasuk juga produk-produk herbal.

Berdasarkan asalnya, pangan fungsional dapat berasal dari alam maupun formulasi.

Berdasarkan sumbernya, pangan fungsional dapat bersumber dari tumbuhan (fitokemikal), hewan (zookemikal), alga, jamur dan mikroorganisme.

Fitokemikal adalah komponen bioaktif dari tumbuhan yang bersifat non-nutrisi dan memiliki manfaat mencegah penyakit. Beberapa sifat fitokemikal:

    • Non-nutritif
    • Peneliti mengetahui lebih dari 1000 fitokemikal
    • Tumbuhan memproduksi komponen ini sebagai proteksi tetapi studi menunjukkan komponen tersebut dapat memprotek manusia dari penyakit.
    • Komponen ini adalah zat nutrisi non-esensial, tubuh manusia tidak membutuhkannya untuk mempertahankan hidup.

 

Contoh-contoh Pangan Fungsional

Contoh pangan fungsional fitokemikal yang sering kita ketahui antara lain:

Polifenol (flavonoid, isoflavonoid)  yang terdapat pada buah-buahan, sayuran, dan kacang-kacangan, antosianidin yang terdapat pada buah beri, anggur, dan jeruk, fitoestrogen yang terdapat pada legume, buah beri, kacang tanah, terpenoid pada jamur, karotenoid pada wortel, tomat, sayuran daun-daunan, limonoid pada jeruk, fitosterol pada kacang-kacangan, sayuran, dan biji-bijian, glukosinolat pada sayuran kembang kol dan sejenisnya, serta jenis-jenis serat (fiber).

Manfaat Pangan Fungsional bagi Kesehatan

Berbagai manfaat kesehatan pangan fungsional tersebut bagi kesehatan antara lain: melindungi dari berbagai penyakit seperti kanker, penyakit jantung koroner, diabetes, hipertensi, infeksi dan inflamasi, osteoporosis, dan lainnya.

Pada tulisan-tulisan berikutnya akan kita bahas berbagai jenis herbal (pangan fungsional) yang dikenal masyarakat Indonesia. Biiznillah.

Sumber:

https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/herbal

https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/herba

https://firanda.com/tafsir-surat-abasa-tafsir-juz-amma/

https://doi.org/10.1016/B978-0-12-818593-3.00011-7

Alasan Larangan Meniup Makanan dan Minuman

<a href="https://www.freepik.com/free-vector/pasta-concept-illustration_21532513.htm#query=blowing%20on%20food&position=26&from_view=search&track=ais">Image by storyset</a> on Freepik
Image by storyset on Freepik

Nabi Shallallahu 'Alayhi wa Salam melarang kita meniup makanan atau minuman. Berikut ini alasannya.

Larangan Rasulullah ﷺ Meniup Makanan atau Minuman

Di dalam satu hadits Kitab Shahih, 'Abdullah bin Abu Qatadah dari Bapaknya dari Nabi ﷺ, beliau mensabdakan, “…dan jangan bernafas dalam gelas saat minum." (HR. Bukhari No. 153)

Imam An Nawawi mengatakan bahwa larangan bernafas di dalam gelas saat minum adalah adab. Nafas akan mengotori air minum atau ada sesuatu yang dapat jatuh dari mulut atau dari hidung atau semacamnya. (Syarh Shahih Muslim, 3/160)

Ibnul Qayyim juga mengatakan bahwa meniup minuman bisa menyebabkan air itu terkena bau yang tidak sedap dari mulut orang yang meniup, sehingga membuat air itu menjijikkan untuk diminum. Terutama ketika saat orang itu menderita bau mulut. (Zadul Ma’ad, 4/215).

Alasan Larangan Meniup Makanan atau Minuman secara Ilmiah

Secara ilmiah, alasan larangan meniup makanan atau minuman adalah sebagai berikut. Tubuh manusia mengandung berbagai muatan negatif seperti sampah bio-elektrik, suhu, sisa-sisa metabolisme, gas dan sebagainya. Tubuh harus mengeluarkan muatan negatif tersebut agar tidak berdampak pada kesehatan. Salah satu mekanisme yang dapat membantu mengeluarkan muatan negatif itu adalah proses pernapasan. Oleh karena itu, pernapasan adalah salah satu mekanisme yang menjaga keseimbangan bio-elektrik tubuh.

Saat kondisi tubuh mengandung lebih banyak muatan positif (proton), maka, proses pernapasan akan membuang kelebihan elektron. Contoh kondisi ini adalah saat otot berkotraksi. Saat otot berkontraksi akan terjadi penumpukan asam laktat yang mengandung lebih banyak muatan proton.

Bila kita meniup makanan atau minuman, akan terjadi perubahan profil struktur makanan atau minuman itu. Struktur air atau makanan yang mengandung air akan berubah lebih asam (megandung lebih banyak H2CO3, asam karbonat) sehingga akan berdampak pada kesehatan.

Secara filosofis, meniup makanan serta minuman sama artinya dengan kita menghembuskan keburukan yang seharusnya kita buang ke dalam makanan. Seolah kita mengonsumsi kembali sampah yang awalnya hendak kita buang.

Sumber:

https://konsultasisyariah.com/18256-adab-makan-dilarang-meniup-makanan-dan-minuman.html 

Cara Hidup Sehat Islami, 2015, Tauhid Nur Azhar, Bandung Barat: Tasdiqiya Publisher

Sehatnya Makan dengan Tangan Kanan dan Tiga Jari

Image by <a href="https://www.freepik.com/free-photo/front-view-delicious-food-arrangement_7945548.htm#query=eating%20with%20hand&position=49&from_view=search&track=ais">Freepik</a>
Image by Freepik

Di zaman sosial media seperti saat ini, tontonan dan berfoto selfie dengan makanan bahkan tayangan mukbang sudah sangat tidak asing lagi di perangkat gadget kita. Rasa lapar dan mengendalikan nafsu makan adalah kegiatan pengendalian diri yang paling dasar (DR Umar Faruq Abdullah). Ketika kita tidak bisa mengendalikan makan kita, maka kita akan sulit mengendalikan nafsu lainnya yang lebih besar. Berikut ini mari kita ulas mengenai Sehatnya makan dengan tangan kanan dan tiga jari.

Makan menggunakan tangan

Makan adalah kegiatan yang melibatkan indera yang banyak. Indera – penglihatan, penciuman, rasa, sentuhan dan bahkan pendengaran – semuanya terlibat dan bekerja secara harmonis. Tangan, mata dan hidung, memungkinkan sistem pencernaan untuk mempersiapkan apa yang akan kita konsumsi bahkan sebelum makanan mencapai mulut kita.

Saat kita makan menggunakan tangan, akan mendorong kewaspadaan karena memungkinkan kita lebih berkonsentrasi pada makanan dan merasa lebih terhubung dengannya, merasakan tekstur makanan, mencium aromanya dan benar-benar menikmatinya. Hal itu membuat kita makan lebih lambat dan memperhatikan seberapa banyak kita makan. 

Sebuah penelitian menemukan bahwa orang tua mampu membantu anak-anak mereka yang berusia 8 sampai 12 tahun yang kelebihan berat badan mengurangi kebiasaan makan berlebihan dengan melatih mereka makan dengan tangan. Penelitian lain juga menemukan bahwa orang yang makan cengan cepat berhubungan dengan diabetes melitus tipe 2 saat menggunakan alat makan. Hal ini berkaitan dengan ketidakseimbangan gula darah dalam tubuh sehingga berkontribusi terhadap perkembangan diabetes melitus tipe 2.

Makan menggunakan tangan kanan

Secara anatomi dan fisiologi, belahan (hemisfer) otak kiri mengatur sisi kanan tubuh dan sebaliknya. Belahan otak kiri berkaitan dengan proses kognitif, kemampuan mempelajari, analitik, terukur dan menyimpulkan. Sedangkan sisi hemisfer kanan berkaitan dengan hal yang bersifat acak, random, artistik, kreativitas, kenikmatan, dan imajinasi.

Dari fakta di atas, kita dapat menarik pelajaran bahwa makan harus mengedepankan analisis kebutuhan bukan hanya aspek keindahan dan estetika apalagi aspek kenikmatan semata. Kita harus menganalisis jenis, jumlah, serta waktu makan kita apakah sesuai dengan kebutuhan tubuh kita atau tidak. Dari sinilah proses pengendalian diri bermula, menggunakan tangan kanan ketika makan berarti mengedepankan aspek pengendalian diri sesuai kebutuhan dan tidak berlebihan.

Sebaliknya, orang yang terbiasa makan dengan tangan kiri akan lebih memprioritaskan aspek kenikmatan, keindahan, dan estetika makanan ketimbang kebutuhan. Mereka lebih memperhatikan rasa dan emosi. Lahirlah sifat hedonis yang memperturutkan hawa nafsu, lebih mencintai aspek duniawi. Inilah budaya dari Eropa Kontinental dan Amerika yang mengedepankan aspek estetik dan kenikmatan. Mereka makan menggunakan medium pisau dan garpu menggunakan 2 tangan saat makan, tangan kanan dan kiri tidak ada bedanya.

Mereka lebih mencintai makanan daripada mencintai Tuhannya alias lebih mendahulukan kehendak hawa nafsu daripada kehendak Zat Pencipta. – Tauhid Nur Azhar, PhD.

Menurut Rasulullah ﷺ mereka ini adalah golongan pengikut setan:

Di dalam sebuah hadits, dari Salim dari Bapaknya, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,

"Janganlah sekali-kali seseorang diantara kalian makan dan minum dengan tangan kiri, karena setan makan dengan tangan kiri dan minum dengan tangan kiri pula.” (HR Muslim No. 3765)

Sayangnya, kebanyakan orang saat ini, terobsesi dengan makanan yang enak, tampilan estetik dan menarik, bahkan para youtuber menampilkan adab makan yang sangat tidak sesuai dengan ajaran Islam. Cara makan mukbang, menyiarkan makan porsi besar kemudian meng-upload secara online.

Makan dengan Tiga Jari

Selain menggunakan tangan kanan, pengendalian diri via adab makan juga dapat kita lakukan dengan menggunakan tiga jari saja saat makan. Di dalam sebuah hadits, dari Ibnu Ka’ab bin Maalik, dari ayahnya radhiallahu‘anhuma mengatakan bahwa Rasūlullāh ﷺ biasa makan dengan menggunakan tiga jari,

“Rasūlullāh ﷺ makan dengan menggunakan tiga jari, dan Beliau menjilat tangannya sebelum membersihkannya” [HR Muslim No. 3791].

Di dalam Syarah Riyadhus shalihin Juz 7/243, Syeikh Ibnu Utsaimin rahimahullah mengatakan: “Dianjurkan untuk makan dengan tiga jari, yakni jari tengah, jari telunjuk, dan jempol, karena hal tersebut menunjukkan sifat tidak rakus dan ketawadhu’an. Namun hal ini berlaku untuk makanan yang bisa dimakan dengan menggunakan tiga jari...”

Saat kita makan menggunakan tiga jari, jumlah makanan yang masuk ke dalam mulut lebih seimbang jumlahnya dengan jumlah enzim. Kelenjar ludah memproduksi enzim amilase dan lisozim dapat mencerna makanan dengan optimal sehingga makanan menjadi cepat lumat. Sehatnya makan dengan tangan kanan dan tiga jari.

Sumber:

https://bimbinganislam.com/adab-makan-menggunakan-lebih-dari-tiga-jari/

https://www.healthymuslim.com/articles/fygxeafgd-eating-with-your-hands-has-amazing-health-benefits.cfm

https://id.pinterest.com/pin/164592561361886572/

Cara Hidup Sehat Islami, 2015, Tauhid Nur Azhar, Bandung Barat: Tasdiqiya Publisher

Makanan Kemasan Bikin Nagih?

Image by Freepik
Image by Freepik

Setiap kali kita mengonsumsi makanan kemasan, satu sampai dua kali suapan terasa tidak cukup. Tanpa kita menyadarinya, tangan kita terus saja merogoh makanan di dalam kemasan itu. Memangnya makanan kemasan bikin nagih? Betul. Ternyata produsen makanan kemasan mendesain (membuat) makanan kemasan dengan tujuan agar konsumen "tidak berhenti" mengonsumsi produk mereka. Berikut penjelasannya.

Alasan Ilmiah Kenapa Makanan Kemasan Terasa sangat Enak

Image by Kerfin7 on Freepik
The image of the human brain

Industri makanan dan minuman kemasan siap saji mengenal istilah bliss point (titik bahagia). Bliss point adalah titik terenak dan ternyaman yang dipersepsi pengecapan lidah kita saat mengonsumsi produk makanan kemasan. Bliss point sebenarnya adalah keseimbangan rasa asin dari garam, gurih dari lemak dan manis dari gula yang menimbulkan persepsi enak tadi.

Saat kita makan makanan enak, otak akan mengaktifkan suatu sirkuit penghargaan (reward). Rasa enak menimbulkan reward berupa pengeluaran endorfin (hormon bahagia). Akan terjadi serbuan kimia yang membanjiri otak dengan kesenangan sehingga otak akan menciptakan lebih banyak reseptor untuk dopamin sebagai respons. Dopamin (hormon yang memicu ketagihan) akan mendorong kita terus "mencari" reward bahagia.

Sehingga sirkuit reward akan terjadi terus menerus. Inilah penjelasan makanan kemasan bikin nagih.

Kombinasi ketiga bahan makanan tadi yang secara sinergis memicu dopamin, bukan salah satunya. Aplikasi bliss point ini sebenarnya mendapatkan kritik karena diduga berhubungan dengan perilaku adiksi konsumsi makanan kemasan.

Dengan cara yang sama seperti orang dengan kecanduan narkoba atau alkohol membutuhkan dosis yang lebih besar dari waktu ke waktu, kita menginginkan lebih banyak junk food semakin banyak Anda memakannya.

Kenapa bisa berbahaya?

Pada tulisan kami sebelumnya, bahaya di balik konsumsi makanan kemasan bagi kesehatan dapat timbul akibat:

Konsumsi berlebihan (over-consumption) makanan kemasan karena sifat makanan kemasan yang hiperpalatabel, sangat terasa enak. Hal tersebut dapat menimbulkan gangguan “sinyal lapar-kenyang” (ketidakseimbangan antara hormon leptin dan ghrelin). Salah satu dampak yang timbul adalah asupan pangan bernutrisi tinggi menjadi turun. Seringkali makanan kemasan siap saji mengandung kalori yang tinggi, lemak-trans, karbohidrat olahan, gula olahan, sedang “isi” nutrisinya rendah.

Selain itu, makanan kemasan nyaman dan mudah langsung dikonsumsi. Kampanye pemasaran makanan kemasan sangat pervasif (sangat mengena) dan persuasif.

Makanan kemasan juga masih dapat mengandung substansi berbahaya dampak pemrosesan, seperti kontaminan sampingan dari proses suhu tinggi, bahan aditif yang mengganggu komposisi mikrobiota usus dan memicu inflamasi, serta komponen perusak keseimbangan hormonal dari kemasan makanan.

Bagaimana Menghindarinya?

<a href="https://www.freepik.com/free-vector/fatty-man-rejecting-fast-food-cartoon_5467521.htm#page=2&query=stop%20eating%20junk%20food&position=39&from_view=search&track=ais">Image by vectorpocket</a> on Freepik
Image by vectorpocket on Freepik

Lalu, bagaimana sebaiknya kita bersikap? Terdapat dua strategi yang sebaiknya dilakukan bersamaan. Secara global berkaitan dengan pemangku kebijakan.

    • Pemerintah dapat mengeluarkan kebijakan fiskal berupa pungutan (pajak) makanan dan minuman ultra-proses serta junk food yang terbukti efektif menekan penjualannya;
    • Pencantuman label peringatan pada kemasan depan (front-of-package) dengan lebih ketat;
    • Pengaturan cara-cara pemasaran agar tidak langsung menyasar anak-anak usia sekolah;
    • Perlindungan lingkungan sekolah dengan program terstruktur;
    • Kebijakan komprehensif lainnya yang telah diterapkan pemerintah Chile mampu mengubah norma sosial dan kultural seputar isu ini sehingga menurunkan permintaan makanan ultra-proses.

Tugas kita adalah secara individu, kita harus mengedukasi diri kita dan keluarga mengenai masalah ini. Terapkan langkah-langkah berikut:

    • Rencanakan makanan dan kudapan Anda sebelumnya. Anda memutuskan apa yang Anda makan berdasarkan kebutuhan nutrisi, bukan berdasarkan apa yang tersisa di lemari makan Anda. Perencanaan ke depan juga membantu Anda menjaga anggaran dan membuat belanja lebih mudah.
    • Pilih buah segar untuk pencuci mulut daripada junk food untuk menghindari tambahan garam, gula, dan lemak jenuh.
    • Periksa nilai nutrisi makanan Anda pada informasi nutrisi di bagian belakang kemasan.
    • Hati-hati dengan 'trik' iklan, termasuk klaim bahwa suatu produk 'low sugar', karena masih bisa tinggi kalori, garam, atau lemak. Misal, suatu produk mengklaim “low fat” padahal “hanya” lebih sedikit lemak daripada versi aslinya - tetapi mungkin masih tinggi lemak.

Kesimpulan

Sebagai seorang dari bagian komunitas muslim, sudah seyogianya kita menerapkan tuntunan Islam di dalam keseharian kita. Kita diperintahkan untuk memilah dan memilih makanan yang halal dan terbaik bagi kesehatan kita.

    • QS. Abasa: 24

“maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya

    • QS. Al Baqarah: 168

“Wahai manusia! Makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti Langkah-Langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu.”

Sumber:

https://globalfoodresearchprogram.org/wp-content/uploads/2021/04/UPF_ultra-processed_food_fact_sheet.pdf 

https://en.wikipedia.org/wiki/Bliss_point_(food)#References

Bahaya di Balik Makanan Kemasan Siap Saji

<a href="https://www.freepik.com/free-ai-image/abundance-healthy-food-choices-supermarket-aisle-generated-by-ai_43160959.htm#fromView=search&term=groceries+store&page=1&position=1">Image By vecstock</a>
Image By vecstock

Sekitar 50 sampai dengan 100 tahun lalu, mungkin nenek dan kakek buyut kita lebih banyak mengonsumsi makanan asli (real food) ketimbang makanan olahan apalagi makanan kemasan siap saji. Revolusi tekonologi pangan dan penjualan retail modern dalam 60 tahun belakangan ini mengakibatkan ledakan pertumbuhan produksi dan konsumsi makanan olahan. Makanan olahan telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari gaya hidup masyarakat saat ini. Di mini market, kita melihat jajaran makanan dan minuman kemasan di rak pajang dengan aneka kemasan yang menarik. Namun, ternyata terdapat lebih dari 10 bahaya di balik makanan kemasan siap saji yang dikonsumsi secara terus menerus?

Klasifikasi Pemrosesan Makanan

Penting untuk mengetahui klasifikasi makanan berdasarkan tingkat pemrosesannya (di dalam industri pangan) sebelum dikonsumsi oleh manusia. Hal ini berkaitan dengan jenis kelompok makanan yang lebih berdampak bagi kesehatan. FAO menggunakan klasifikasi NOVA.

Kelompok 1 – makanan tanpa pemrosesan atau pemrosesan minimal

Makanan tanpa pemrosesan adalah bagian yang dapat dimakan baik dari tumbuhan maupun hewani (biji-bijian, kacang-kacangan, buah-buahan, dedauan, batang, akar, telur, susu). Tujuan kelompok ini pada umumnya untuk menyingkirkan bagian yang tidak dapat dimakan, tujuan menyimpan makanan, dan proses memasak demi keamanan dan kenyamanan sebelum dimakan. Biasanya proses memasak sederhana di rumah dan restoran termasuk ke dalam kelompok ini. Tanpa keterlibatan proses industri.

Kelompok 2 – pemrosesan komposisi/bahan pangan

Pabrik memproses kelompok makanan ini untuk digunakan bersama dengan pangan kelompok 1 sebagai bumbu. Contoh makanan kelompok ini adalah gula, garam, minyak, mentega. Proses industri yang terlibat misalnya adalah penyulingan, penggilingan, penggerusan, dan pemurnian.

Kelompok 3 – pemrosesan makanan alami

Kelompok ini adalah makanan alami yang mengalami pemrosesan dengan menambah pangan kelompok 2 ke dalam kelompok 1 dengan tujuan daya tahan produk atau modifikasi rasa melalui pengawetan, fermentasi, asinan atau manisan. Contoh produk kelompok ini adalah: asinan / manisan buah, keju, daging kalengan, daging asap.

Kelompok 4 – makanan kemasan cepat saji atau makanan ultra-proses

FAO mengkategorikan makanan kemasan siap saji ke dalam kelompok makanan ultra-proses (ultra-processed food = UPF)

Kita dapat menyebut makanan kemasan siap saja dengan makanan “formulasi pabrik” yang mengandung sedikit sekali atau tanpa kandungan pangan asli. Hal itu terlihat pada daftar panjang komposisi bahan di kemasannya. Kita tidak akan mendapatkan bahan-bahan pembuat makanan kemasan di dapur rumah  kita. Kita dapat menemukan komposisi bahan tambahan yang sifatnya “kosmetis”. Pabrik menggunakan bahan tersebut untuk tampilan warna, mengemulsi, atau memunculkan rasa pangan asli atau bahkan menyamarkan kualitas akhir produk. Hasilnya adalah pangan yang hiper-palatable (sangat enak di lidah). Seluruh proses tersebut biasanya melalui lebih dari 1 tahap industrial. Tujuannya tidak lain untuk menghasilkan “pangan baru” menggantikan pangan lainnya demi mencari keutungan setinggi-tingginya.

Makanan kemasan siap saji atau makanan ultra-proses memiliki sinonim dengan junk-food. Junk-food adalah makanan dengan kandungan nutrisi, vitamin, mineral yang rendah, dengan energi, garam, gula, dan lemak yang tinggi. Jika kita mengonsumsi junk-food dalam jumlah besar dan menjadi kebiasaan harian, maka junk-food tidak memiliki peran apa pun di dalam pola makan yang sehat.

Contoh: makanan ringan (snack), biscuit, makanan instan (mie), makanan siap santap kemasan, permen, minuman ringan (soda, kemasan)

Trend Konsumsi Makanan Kemasan Siap Saji

Sebuah lembaga independen di Eropa, Euromonitor, mengamati total volume penjualan makanan ultra-proses per kapita dari 80 negara sejak 2002─2016 serta mencocokannya dengan indeks massa tubuh (IMT). Hasilnya menunjukkan:

Asia Tenggara dan Asia Selatan adalah kawasan dengan peningkatan volume penjualan makanan ultra-proses paling tinggi sebesar 67,3%. Peningkatan volume penjualan minuman ultra proses paling pesat masih di negara2 Asia Tenggara dan Asia Selatan (120%)!

Peningkatan volume penjualan per kapita pangan dan minuman ultra-proses secara positif berhubungan dengan peningkatan IMT di tingkat populasi.

Penduduk negara maju, seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Kanada, mengonsumsi makanan ultra-proses lebih dari setengah total kalori harian yang mereka butuhkan.

Bahaya di Balik Makanan Kemasan Siap Saji

Satu penelitian dengan bukti yang kuat menunjukkan pabila kita mengonsumsi makanan kemasan siap saji dalam jumlah banyak secara terus-menerus, maka terdapat bahaya sebagai berikut:

Dalam jangka pendek, dapat berefek samping pada kesehatan dan kebugaran secara umum karena:

    • Meningkatkan stres dan tidak bersemangat
    • Rasa kelelahan meningkat karena tingkat energi yang menurun
    • Sulit tidur
    • Sulit fokus dan konsenstrasi
    • Gigi keropos

Dalam jangka panjang, penelitian menunjukkan:

Dapat terjadi over-konsumsi yang mengakibatkan peningkatan berat badan (obesitas) dengan risiko sebesar >39%

    • Risiko penyakit pembuluh darah seperti: hipertensi, hiperkolesterolemia serta penyakit jantung meningkat risikonya sebesar > 30%
    • Penyakit diabetes, kanker, bahkan depresi meningkat risikonya masing-masing sebesar  50%, 12%, dan 20%;
    • Kejadian kerentaan di mana fungsi fisik tubuh menurun lebih cepat sehingga membutuhkan pendampingan perawat lansia dapat meningkat 300%!
    • Kematian dini (kematian antara usia 30 – 70 tahun), penyebab kematian apa pun meningkat > 28% dan akibat penyakit jantung meningkat 50%.
 

Di tulisan berikut, kami akan membahas mengenai mekanisme kenapa bisa berbahaya dan bagaimana cara menghindarinya.

Sumber:

https://www.globalfoodresearchprogram.org/wp-content/uploads/2021/04/UPF_ultra-processed_food_fact_sheet.pdf 

https://nutritionfacts.org/video/ultra-processed-junk-food-put-to-the-test/#transcript

Gula Aren Lebih Sehat dari Gula Pasir, Mitos atau Fakta?

<a href="https://www.freepik.com/free-photo/top-view-white-brown-sugar-cubes-scattered-from-glass-jars-dark-wooden-background_8897778.htm#query=palm%20sugar%20and%20cane%20sugar&position=47&from_view=search&track=ais">Image by stockking</a> on Freepik
Image by stockking on Freepik

Sebagian masyarakat kita meyakini bahwa gula aren lebih sehat daripada gula pasir. Bagaimana pembahasannya? Mari kita saksikan video penjelasannya. Video sesi tanya jawab online bersama Yayasan HSI Berbagi pada hari Sabtu, 12 Agustus 2023.

Gula Pasir

    • Gula pasir/putih berasal dari tanaman tebu
    • Gula tebu mentah sebenarnya tidak perlu di-rafinasi krn sudah terasa manis
    • Rafinasi gula menyingkirkan molasse (by-product rafinasi gula tebu): sehingga gula berwarna putih kristal dengan kemurnian > 99,7%
    • Dari sisi nutrisi, gula putih tidak mengandung nutrien, seperti kalsium, kalium, zat besi, dan Mg, sebagaimana pada gula coklat (yg masih mengandung sedikit molasse)
      • Gula pasir hanya murni sukrosa (disakarida glukosa + fruktosa), yang merupakan karbohidrat sederhana
      • Pengaruh konsumsi gula terhadap penyakit tidak menular: peningkatan insidensi resistensi insulin, hyperinsulinemia, DMT2, jantung koroner

Gula Aren

    • Gula aren dibuat secara alami dari sadapan kelapa yang dikeringkan
    • Gula aren mengandung “sedikit” nutrien: zat besi, kalsium, kalium, polifenol, anti-oksidan
    • Meskipun demikian, Indeks Glisemik gula arena lebih rendah dari gula pasir, karena adanya serat inulin
    • Kandungan kalori yang tinggi = gula pasir
    • Benefit nya tertutupi dengan kadar gula nya yang tinggi

Kesimpulan

  • Walaupun gula aren lebih alami daripada gula pasir: tetap saja GULA
  • Gunakan sedikit saja
  • Gunakan dengan frekuensi jarang
  • Lebih baik lagi TANPA GULA
  • Bila tetap ingin manis, gunakan manis dari buah (tetap tidak terlalu banyak)
 

Sumber:

Manisnya Gula, Enak Siih, Tapi….

Bahan makanan dan bahan masakan yang menjadi sorotan pertama dan utama kita adalah gula. Kebanyakan dari kita menyukai makanan dan minuman manis. Tetapi tahukah Sobat Sehat? Banyak pula makanan olahan (kemasan) yang tetap mengandung gula walaupun rasanya tidak manis. Saat ini, seolah penggunaan gula pada masakan, makanan, minuman juga pada pangan olahan hukumnya “wajib” ada. Manisnya gula memang enak sih, tapi, apakah gula atau rasa manis itu memang “wajib” ada pada konsumsi makan-minum kita sehari-hari? Atau memang hanya menjadi “pemanis” lidah? Bagaimana dampaknya bagi tubuh kita? Tulisan ini sedikit banyak mengulas mengenai hal itu.

Kenapa Kita Suka Sekali Rasa Manis?

<a href="https://www.freepik.com/free-vector/human-brain-with-lights-purple_12849194.htm#&position=1&from_view=collections">Image by Kerfin7</a> on Freepik
Image by Kerfin7 on Freepik

Pada saat kita memakan makanan manis, reseptor di ujung lidah akan menerima rangsangan rasa manis. Dari situ, batang otak akan memproses sinyal manis untuk selanjutnya mengirimnya ke bagian korteks (permukaan) otak. Korteks otak akan memicu serangkaian reaksi pelepasan dopamin. Dopamin adalah zat neurotransmitter di otak yang memotivasi rasa puas dan menyenangkan. Perasaan itulah yang timbul sesaat kita mengonsumsi makanan atau minuman manis. Oleh karena reseptor dopamin tersebar di seluruh permukaan korteks otak, maka, terjadilah banjir dopamin, khususnya bila mengonsumsi manis dalam jumlah banyak.

Alkohol, nikotin (pada rokok), dan heroin (narkoba) ternyata juga memengaruhi pelepasan dopamin. Namun, ketiga zat itu menimbulkan hiperaktivitas dopamin sehingga rasa puas dan menyenangkan yang timbul sangat berlebihan. Meski efek rasa manis dari gula tidak sekuat ketiga zat tadi pada pelepasan dopamin, tetapi, tetap melalui mekanisme yang serupa.

Celakanya, ambang rasa puas dan senang oleh dopamin lama-kelamaan menurun.Konsumsi jumlah lebih banyak baru dapat memicu rasa kepuasan yang sama. Inilah yang disebut ketagihan. Baik ketagihan alkohol, rokok, atau narkoba, termasuk ketagihan konsumsi manis (gula). Itulah alasan kenapa anak-anak sangat suka sekali mengonsumsi manis-manis. Sebaliknya, anak-anak tidak begitu suka memakan sayuran karena sayuran tidak merangsang pelepasan dopamin. Selain efek langsung, efek lain fruktosa (di dalam gula) adalah meningkatkan hormon lapar (ghrelin). Orang yang senang mengonsumsi manis justru akan sering merasa cepat lapar, menambah efek ketagihan gula.

Sebenarnya pelepasan dopamin tidak selamanya buruk. Dua tujuan utama pelepasan dopamin: yang pertama adalah sebagai reaksi atas makanan yang tidak enak karena “busuk”. Tujuan kedua adalah untuk mengenali agar “terus penasaran” menginginkan jenis-jenis makanan baru. Sensasi penasaran ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan kita akan nutrisi dari beraneka ragam jenis makanan yang (seharusnya) bergizi. Jadi, sebenarnya dopamin adalah perangkat anugerah Allah ﷻ. Dengannya, kebutuhan dasar manusia akan gizi dapat terpenuhi.

Apakah tubuh kita butuh manisnya gula?

Sebelum itu, mari kita berkenalan dengan karbohidrat secara ringkas. Terdapat beberapa bentuk karbohidrat yang dibedakan dari panjang molekulnya. Disakarida memiliki  dua molekul, contohnya: sukrosa (gula pasir) dan laktosa (karbohidrat di dalam susu dan produknya). Kemudian polisakarida yang memiliki lebih dari dua molekul, contohnya zat pati (nasi, kentang) dan serat.

Karbohidrat lebih dari satu molekul akan dipecah menjadi monosakarida. Monosakarida hanya terdiri dari satu molekul karbohidrat dan merupakan bentuk karbohidrat yang paling sederhana, yaitu glukosa, galaktosa (di dalam susu), dan fruktosa (di dalam buah dan gula pasir). Tubuh kita membutuhkan glukosa sebagai sumber energi utamanya. Glukosa adalah bahan bakar tubuh agar manusia tetap hidup.

Terdapat 2 sumber karbohidrat, alamiah dan tambahan. Karbohidrat alami terdapat di buah-buahan, sayuran, dan susu. Di alam, kita tidak akan menemukan gula tambahan (added sugar), sebagaimana namanya. Kita akan menemukan kebanyakan gula tambahan pada makanan dan minuman olahan serta gula pasir/meja (sukrosa) yang biasa kita konsumsi sehari-hari. Gula tambahan lebih berfungsi sebagai pemanis rasa berkalori tinggi dengan nol nutrisi. Karena gula tidak mengandung nutrisi, maka sebenarnya manusia tidak membutuhkan gula tambahan, baik gula meja maupun gula pada industri pangan! Manisnya gula memang enak sih, tapi, 1 sendok makan (10 gr) gula meja setara dengan 37 kalori yang dengan konsumsi sedikit saja mudah sekali menambah massa tubuh sehingga mudah gemuk.

Metabolisme Gula, Mudahnya Tubuh jadi Gemuk dan Diabetes

<a href="https://www.freepik.com/free-photo/never-enough-close-up-shot-funny-young-plump-man-with-curly-ginger-hair-holding-tight-jar-candies-looking-with-startled-surprised-expression-his-mouth-stuffed-with-marshmallow_9438452.htm#query=sugarry%20food%20and%20man%20body%20fat&position=7&from_view=search&track=ais">Image by wayhomestudio</a> on Freepik
Image by wayhomestudio on Freepik

Gula adalah disakarida (dua-sakarida) bernama sukrosa yang terdiri dari dua molekul monosakarida: glukosa dan fruktosa. Rasa manis gula terutama berasal dari molekul fruktosa. Usus halus akan menyerap fruktosa ke pembuluh darah menuju liver untuk dimetabolisme. Tidak seperti glukosa, fruktosa menaikkan gula darah secara gradual dan tidak mengakibatkan kenaikan insulin secara langsung. Manusia yang mengonsumsi fruktosa secara jangka panjang akan menunjukkan efek negatif pada tubuhnya.

Sebelum menggunakannya sebagai energi, tubuh manusia harus mengubah fruktosa menjadi glukosa di organ liver (hati) terlebih dahulu. Liver akan memetabolisme fruktosa secara eksklusif. Namun, metabolisme fruktosa tidak memiliki kapasitas pengendalian akumulasi lemak sebagaimana metabolisme glukosa, mengakibatkan akumulasi lemak yang tidak terkendali. Akumulasi jaringan lemak yang terjadi tidak hanya di bawah kulit (subkutan), seperti massa lemak umumnya. Penumpukan lemak subkutan akan menambah berat badan dengan cepat. Akumulasi lemak juga dapat terjadi di jaringan otot, liver, dan lemak perut (viseral) yang ketiganya disebut lemak ektopik. Penumpukan lemak ektopik inilah yang berbahaya dan dapat menimbulkan penyakit.

Konsumsi kadar fruktosa yang tinggi terus menerus akan membebani kerja liver sehingga terjadi penumpukan droplet (tetesan) lemak di dalam sel-sel liver. Akibatnya, liver akan memproduksi VLDL sehingga terjadi peningkatan trigliserida. Akibat yang lebih buruk adalah terjadinya siklus buruk, dimana peningkatan trigliserida menimbulkan resisten insulin liver yang juga menghasilkan diasilgliserol (sebuah metabolit toksik). Siklus demikian terjadi terus menerus. Akibat akhirnya adalah resistensi insulin sistemik (seluruh tubuh) yang lama-kelamaan menjadi diabetes melitus tipe 2.

Konsumsi Gula Pasir

Konsumsi fruktosa dan glukosa secara bersama-sama dapat lebih berbahaya ketimbang dikonsumsi secara terpisah. Glukosa turut meningkatkan jumlah fruktosa yang diserap oleh usus halus sekaligus menstimulasi pelepasan insulin. Hal inilah yang terjadi saat kita mengonsumsi gula. Setiap mengonsumsi gula, kita sudah pasti mengonsumsi glukosa dan fruktosa secara bersamaan karena jarang terdapat sediaan gula dalam bentuk monosakarida murni baik di alam maupun industri. Yang membedakan gula pasir dan gula untuk industri adalah komposisinya. Gula pasir terdiri dari 50% glukosa dan 50% fruktosa. Industri makanan olahan (kemasan) banyak menggunakan gula yang lebih banyak kandungan fruktosa-nya. Manisnya gula memang enak sih, tapi, semakin tinggi kadar fruktosa maka akan semakin toksik bagi liver, dan semakin berdampak negatif pada tubuh.

Berlanjut pada tulisan berikutnya...

Sumber:

https://www.npr.org/sections/thesalt/2014/01/15/262741403/why-sugar-makes-us-feel-so-good

https://health.clevelandclinic.org/3-reasons-you-crave-sweet-or-salty

https://www.youtube.com/watch?v=lEXBxijQREo

https://www.medicalnewstoday.com/articles/does-your-body-need-sugar#what-is-sugar

https://health.gov/sites/default/files/2019-10/DGA_Cut-Down-On-Added-Sugars.pdf

https://www.healthline.com/nutrition/sucrose-glucose-fructose#what-are-they

https://nutrition.org/sugars-created-equal-lets-talk-fructose-metabolism/#:~:text=If%20excess%20glucose%20is%20consumed,uptake%20of%20fructose%20(3).

Ternyata, Makan Kita selama Ini …

<a href="https://www.freepik.com/free-vector/gluttony-leading-obesity-illustration_6169670.htm#page=2&query=eating%20too%20much&position=49&from_view=search&track=ais">Image by macrovector</a> on Freepik
Image by macrovector on Freepik

Penyakit degeneratif kronis, seperti jantung koroner, kencing manis, darah tinggi, asam urat, dan lainnya, yang sedang mewabah di tengah masyarakat dan terus bertambah penderitanya bersumber utamanya dari pola hidup yang tidak lagi sesuai antara demand kebutuhan alamiah tubuh dengan supply berupa gaya hidup modern. Hal ini tidak hanya terjadi di kota-kota besar tetapi sudah merambah ke pelosok daerah. Salah satu pola hidup utama yang menopang kesehatan tubuh adalah pola makan. Ternyata pola makan kita telah melenceng jauh dari fitrah alamiah tubuh kita yang sehat. Pola makan bukan hanya tentang bagaimana cara kita makan, tetapi apa yang kita makan.

Pada tulisan sebelumnya, telah kami ulas sedikit mengenai kesadaran akan “apa” yang kita makan. Di dalam Al Quran, Allah memerintahkan kita untuk memakan makanan yang halal lagi baik (bagi kesehatan) (QS. Al-Baqarah [2]: 168). Selain itu, Allah juga melarang kita untuk makan secara berlebihan (QS. Al-A’raf  [7]: 31), menggugah kita untuk sadar akan “berapa banyak” makanan yang kita makan. Sangat jelas bahwa syariat Islam mengatur baik aspek jenis / kualitas makanan maupun berapa banyak / kuantitas makanan yang sebaiknya kita makan. Sayangnya, sudah terdapat banyak ketidaksesuaian antara kualitas dan kuantitas makanan yang kita makan dengan ajaran Islam.

Sebab Kualitas, Kuantitas Makanan, dan Cara Makan Kita yang Salah

<a href="https://www.freepik.com/free-vector/meat-processing-plant-flat-illsutration-worker-uniform-making-meat-products_14263860.htm#query=food%20industry&position=5&from_view=search&track=ais">Image by macrovector</a> on Freepik
Image by macrovector on Freepik

Kemajuan teknologi di bidang informasi, transportasi, dan berbagai bidang industri tentu saja membawa dampak positif bagi perkembangan peradaban manusia. Namun, berbeda dengan bidang-bidang di atas, pengolahan pangan (yang berlebihan) justru menurunkan kualitas kandungan zat nutrisi pangan asli (segar). Motivasi ekonomi oleh pelaku industri pangan serta pertumbuhan jumlah penduduk yang semakin banyak disinyalir telah menggeser nilai kandungan nutrisi tinggi di dalam makanan asli alamiah ke arah makanan dengan nilai nutrisi rendah. Industri pangan “membuat“ produk pangan yang memanjakan lidah kita dengan rasa makanan yang (semakin) enak. Semakin panjang zat makanan melewati proses pengolahan dari wujud asli alamiahnya maka, secara umum, akan menurunkan kualitasnya. Pangan rafinasi bahkan pangan olahan (baca: ciptaan manusia) seperti ultra-processed food dapat memberikan dampak negatif cukup serius bagi kesehatan manusia.

Di samping aspek kualitas, kuantitas makanan yang dikonsumsi oleh manusia pun malah bertambah. Manusia zaman sekarang lebih banyak makan daripada manusia setengah abad yang lalu. Hal ini, di antaranya, disebabkan oleh lagi-lagi kemajuan industri pangan olahan yang mampu mendistribusikan produknya sampai ke pelosok daerah. Makan apa? Sayangnya tadi, memakan makanan dengan kualitas rendah hasil olahan industri pangan.

Di sisi selain kualitas dan kuantitas makanan, juga terdapat ketidakteraturan cara kita makan. Misalnya dari sisi jadwal makan. Atas nama efisiensi waktu, manusia modern makan tidak lihat waktu. Manusia modern makan tanpa melihat jadwal makan saat kondisi perut selapar-laparnya. Dan mereka makan sampai kenyang. Jadwal makan yang teratur menyesuaikan dengan ritme hormonal tubuh, akan sangat baik mengurangi beban kerja tubuh secara keseluruhan. Cara makan yang kurang baik lainnya adalah makan secepat2nya, sambil berdiri, berjalan, memegang gadget, menonton TV. Membuat kita tidak fokus dengan apa dan berapa makanan yang masuk ke mulut kita, apalagi makan snack (ngemil).

Manusia, Makhluk yang Ruwet

Di dalam Buku Nasehat buat Sehat karangan DR. dr. Tan Shot Yen menyebutkan: “manusia adalah makhluk yang detail dan kompleks, maka haruslah pula diberikan perlakuan “istimewa” yang juga mendetail, tidak ada istilah efisiensi bagi perawatan kesehatan tubuh manusia. “ Manusia adalah unity of substance (kesatuan substansi) yang bekerja bersama-sama dan bukan unity of order (kesatuan rangkaian) seperti mesin, maka tidak layak diperlakukan seperti mesin.

Maka marilah kita kembali kepada fitrah kita sebagai manusia sebaik-baik ciptaan Allah (QS. At Tin: 4). Nabi ﷺ telah mencontohkan cara makan yang sehat. Marilah kita memakan jenis-jenis makanan yang terbaik yang disediakan Allah untuk kita. Pada tulisan-tulisan berikut akan coba kami ulas mengenai jenis-jenis makanan dan kuantitas makanan melalui tata cara makan menyehatkan yang dicontohkan Nabi ﷺ.

InsyaaAllah.

Pelajaran dari Organ Lambung Saat Puasa Ramadhan….(2)

Image by Freepik
Image by Freepik

Adakah Mindfulness eating dalam syariat Islam?

Sebagai seorang Muslim, kita tidak perlu mengikuti budaya asing non Islami. Alhamdulillah wa Syukrulillah syariat Islam yang bersumber dari Al Quran dan Al Hadits juga mengajarkan secara rinci tata cara makan dan makanannya. Tugas kita adalah mentadaburi ayat-ayat Al Quran dan mempelajari Hadits Nabi ﷺ.

Syariat Islam mengajarkan apa yang dijelaskan oleh Fung dkk pada tulisan sebelumnya dengan penjelasan ringkas sebagai berikut.

  • Mindful tentang apa yang dimakan. Allah ﷻ berfirman dalam dua ayat:

“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Karena sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah [2]: 168)

“Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang salih. Sesungguhnya Aku Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mu’minun [23]: 51)

Allah memerintahkan kita untuk makan makanan yang halal dan thayyib. Kita telah mengetahui jenis makanan yang halal dan haram karena syariat telah mengaturnya. InsyaAllah kita dapat menjauhi makanan yang haram. Namun, kita harus mempelajari lebih lanjut jenis-jenis makanan yang thayyib. Jenis makanan apa yang bermanfaat bagi kesehatan dan jenis makanan apa yang kurang sehat.

  • Mindful tentang seberapa banyak dan kenapa kita makan.  Allah ﷻ berfirman:

Makan dan minumlah, dan jangan berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf  [7]: 31)

Lalu Nabi ﷺ bersabda: “Tidak ada kantong yang lebih buruk yang diisi oleh manusia daripada perutnya sendiri. Cukuplah seseorang itu mengonsumsi beberapa suap makanan yang dapat menegakkan tulang punggungnya. Kalau terpaksa, maka ia bisa mengisi sepertiga perutnya dengan makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga sisanya untuk nafasnya.” (Dikeluarkan oleh At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al Hakim serta Ibnu Hibban dalam Shahih mereka).

Ibnul Qayyim Al Jauziyah, ulama Islam abad pertengahan, menyatakan bahwa konsumsi makanan dalam jumlah berlebihan dari kebutuhan dan memakan berbagai jenis makanan yang kurang dibutuhkan oleh tubuh dapat mendatangkan penyakit. Ibnul Qayyim menyebutkan tiga tingkatan makan:

    • Tingkatan paling dasar adalah makan sekadarnya untuk cukup beraktivitas sehari-hari dan agar kita kuat beribadah kepada Allah ﷻ. Inilah tujuan utama kita makan, sehingga makan kita juga dapat bernilai ibadah di mata Allah ﷻ. Sehingga bagi seorang muslim, kita tidak mengenal slogan makan untuk hidup atau bahkan hidup untuk makan melainkan hidup untuk ibadah kepada Allah ﷻ saja.
    • Tingkatan berikut adalah sabda Nabi ﷺ, “…Kalau terpaksa (makan lebih dari kecukupan)…”; maka ikutilah ajaran Nabi ﷺ sepertiga lambung untuk masing-masing jenis. Ini adalah makan sesuai kebutuhan tubuh. Salah satu hikmah dari tingkatan ini Nabi ﷺ berkata “terpaksa” dalam konteks makan lebih dari kecukupan. Jadi, menurut Nabi ﷺ, makan lebih dari kecukupan adalah suatu kondisi yang terpaksa. Miris bukan? Sebaliknya dengan kita. Kita selalu merasa bahwa kondisi kekurangan makan adalah suatu keterpaksaan. Padahal kita sama-sama tahu bahwa Nabi ﷺ seringkali dalam kondisi kekurangan makan. Namun, Nabi ﷺ tidak pernah mengeluh.
    • Tingkatan terakhir adalah makan sudah berlebihan. Berarti, makan kita berlebihan adalah saat tidak ada lagi tempat untuk udara di lambung kita.

Puasa Ramadhan adalah Contoh Nyata Mindful Eating dalam Islam

Pada tulisan kami sebelumnya menyebutkan, jika appetite (keinginan/nafsu makan) lebih dominan dibandingkan hunger (kebutuhan makan), maka dapat terjadi over-eating, makan nambah lagi… ngemil lagi… makan tapi kita tidak butuh.

Saat puasa Ramadhan, kita merasa lapar (hungry). Lapar menandakan fitrah kebutuhan biologis tubuh akan asupan makan. Selain rasa lapar, kita juga merasakan nafsu makan (appetite) kita meningkat. Hal ini ditandai dengan rasa ingin cepat berbuka puasa, ngiler saat melihat foto/video makanan misalnya atau “lapar mata” saat ngabuburit. Tetapi, ternyata kedua faktor tadi bisa kita taklukkan dengan motivasi yang kuat. Hal ini membuktikan sebenarnya kita sangat mampu mengendalikan nafsu makan kita sekaligus menahan rasa lapar sampai pada waktu yang ditentukan. Inilah mindfulness eating yang nyata, di mana kekuatan iman dapat mengalahkan nafsu dasar manusia. Puasa Ramadhan benar-benar melatih kita untuk dapat mengendalikan nafsu dasar manusia.

Nah, perilaku inilah yang seharusnya kita pertahankan di sebelas bulan lainnya. Saat keinginan kita mendominasi kebutuhan material duniawi, jadilah kita bergaya hidup hedonistik. Semakin besar pendapatan, semakin besar pula dan semakin mahal keinginan memiliki hal-hal duniawi. Hal ini sangat sesuai dengan sabda Nabi ﷺ: “Seandainya seorang anak Adam memiliki satu lembah emas, tentu ia akan menginginkan dua lembah lainnya, dan sama sekali tidak akan memenuhi mulutnya (merasa puas) selain tanah (kematian) dan Allah menerima taubat orang-orang yang bertaubat.” (HR Al Bukhari 6439 dan HR Muslim No 1048). Keinginan manusia (baca: nafsu) akan dunia tidak akan pernah terpuaskan sampai dia mati.

DR. Umar Faruq Abdullah menyatakan bahwa mengendalikan nafsu makan dan menahan rasa lapar adalah tingkat disiplin yang paling dasar. Bila kita mampu mengendalikan keduanya, Biiznillah kita dapat mengendalikan lainnya. Itulah pelajaran yang dapat kita ambil dari lambung kita sebagai organ penampung makan kita.

Wallahu a'alam...

Tips Sehat Puasa Ramadhan

Untuk merasakan keberkahan dan hikmah puasa Ramadhan bagi kesehatan tubuh kita, berikut ini adalah tips yang dapat Sobat Sehat lakukan selama berpuasa Ramadhan.

1. Hindari berbuka dengan manis dari gula sederhana apalagi minuman manis instan. Hindari juga GORENGAN! Sayaang.. tubuh sudah di-detoks malahan dikasih "racun" lagi... Manis dari gula sederhana dapat menyebabkan gula darah melonjak. Apalagi berbuka dengan makanan gorengan. Sungguh sayang, tubuh kita yang telah di-detoks malah diberi asupan yang kembali membebani tubuh. Lalu, bukankah ada "hadits" yang menganjurkan berbuka dengan yang manis? Sobat Sehat dapat membacanya di sini. Sobat Sehat juga dapat membaca artikel artikel Berkah Puasa Ramadhan bagi Kesehatan.

2. Berbuka dari manis nya buah atau kurma, karena walau manis tetapi buah masih mengandung serat sehingga gula darah tidak akan melonjak tinggi.

3. Habis buka, sholat dulu... berikan kesempatan organ pencernaan mempersiapkan makan besar, menghasilkan enzim2 pencernaan. Makan yang beragam, terutama perbanyak serat2an dari sayur. Boleh sesuaikan dengan Isi Piringku (inlet gambar sebelah kanan). Nasi boleh dikurangi. Tenang, karena lambung saat puasa biasanya sudah menciut, jdi makan dikit seperti kenyang...

4. Ramadan is the month of fasting not feasting = Ramadhan adalah bulan puasa bukan pesta. Jadi jangan balas dendam yaa...

 

Jadi, demikianlah Tips Sehat Puasa Ramadhan yang ringkas dan mudah. Semoga bermanfaat!