Pos Sehat Al Huda, Jl. Sukarajin I Kota Bandung
+6285798493023

Pelajaran dari Organ Lambung Saat Puasa Ramadhan….(2)

Image by Freepik
Image by Freepik

Adakah Mindfulness eating dalam syariat Islam?

Sebagai seorang Muslim, kita tidak perlu mengikuti budaya asing non Islami. Alhamdulillah wa Syukrulillah syariat Islam yang bersumber dari Al Quran dan Al Hadits juga mengajarkan secara rinci tata cara makan dan makanannya. Tugas kita adalah mentadaburi ayat-ayat Al Quran dan mempelajari Hadits Nabi ﷺ.

Syariat Islam mengajarkan apa yang dijelaskan oleh Fung dkk pada tulisan sebelumnya dengan penjelasan ringkas sebagai berikut.

  • Mindful tentang apa yang dimakan. Allah ﷻ berfirman dalam dua ayat:

“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Karena sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah [2]: 168)

“Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang salih. Sesungguhnya Aku Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mu’minun [23]: 51)

Allah memerintahkan kita untuk makan makanan yang halal dan thayyib. Kita telah mengetahui jenis makanan yang halal dan haram karena syariat telah mengaturnya. InsyaAllah kita dapat menjauhi makanan yang haram. Namun, kita harus mempelajari lebih lanjut jenis-jenis makanan yang thayyib. Jenis makanan apa yang bermanfaat bagi kesehatan dan jenis makanan apa yang kurang sehat.

  • Mindful tentang seberapa banyak dan kenapa kita makan.  Allah ﷻ berfirman:

Makan dan minumlah, dan jangan berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf  [7]: 31)

Lalu Nabi ﷺ bersabda: “Tidak ada kantong yang lebih buruk yang diisi oleh manusia daripada perutnya sendiri. Cukuplah seseorang itu mengonsumsi beberapa suap makanan yang dapat menegakkan tulang punggungnya. Kalau terpaksa, maka ia bisa mengisi sepertiga perutnya dengan makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga sisanya untuk nafasnya.” (Dikeluarkan oleh At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al Hakim serta Ibnu Hibban dalam Shahih mereka).

Ibnul Qayyim Al Jauziyah, ulama Islam abad pertengahan, menyatakan bahwa konsumsi makanan dalam jumlah berlebihan dari kebutuhan dan memakan berbagai jenis makanan yang kurang dibutuhkan oleh tubuh dapat mendatangkan penyakit. Ibnul Qayyim menyebutkan tiga tingkatan makan:

    • Tingkatan paling dasar adalah makan sekadarnya untuk cukup beraktivitas sehari-hari dan agar kita kuat beribadah kepada Allah ﷻ. Inilah tujuan utama kita makan, sehingga makan kita juga dapat bernilai ibadah di mata Allah ﷻ. Sehingga bagi seorang muslim, kita tidak mengenal slogan makan untuk hidup atau bahkan hidup untuk makan melainkan hidup untuk ibadah kepada Allah ﷻ saja.
    • Tingkatan berikut adalah sabda Nabi ﷺ, “…Kalau terpaksa (makan lebih dari kecukupan)…”; maka ikutilah ajaran Nabi ﷺ sepertiga lambung untuk masing-masing jenis. Ini adalah makan sesuai kebutuhan tubuh. Salah satu hikmah dari tingkatan ini Nabi ﷺ berkata “terpaksa” dalam konteks makan lebih dari kecukupan. Jadi, menurut Nabi ﷺ, makan lebih dari kecukupan adalah suatu kondisi yang terpaksa. Miris bukan? Sebaliknya dengan kita. Kita selalu merasa bahwa kondisi kekurangan makan adalah suatu keterpaksaan. Padahal kita sama-sama tahu bahwa Nabi ﷺ seringkali dalam kondisi kekurangan makan. Namun, Nabi ﷺ tidak pernah mengeluh.
    • Tingkatan terakhir adalah makan sudah berlebihan. Berarti, makan kita berlebihan adalah saat tidak ada lagi tempat untuk udara di lambung kita.

Puasa Ramadhan adalah Contoh Nyata Mindful Eating dalam Islam

Pada tulisan kami sebelumnya menyebutkan, jika appetite (keinginan/nafsu makan) lebih dominan dibandingkan hunger (kebutuhan makan), maka dapat terjadi over-eating, makan nambah lagi… ngemil lagi… makan tapi kita tidak butuh.

Saat puasa Ramadhan, kita merasa lapar (hungry). Lapar menandakan fitrah kebutuhan biologis tubuh akan asupan makan. Selain rasa lapar, kita juga merasakan nafsu makan (appetite) kita meningkat. Hal ini ditandai dengan rasa ingin cepat berbuka puasa, ngiler saat melihat foto/video makanan misalnya atau “lapar mata” saat ngabuburit. Tetapi, ternyata kedua faktor tadi bisa kita taklukkan dengan motivasi yang kuat. Hal ini membuktikan sebenarnya kita sangat mampu mengendalikan nafsu makan kita sekaligus menahan rasa lapar sampai pada waktu yang ditentukan. Inilah mindfulness eating yang nyata, di mana kekuatan iman dapat mengalahkan nafsu dasar manusia. Puasa Ramadhan benar-benar melatih kita untuk dapat mengendalikan nafsu dasar manusia.

Nah, perilaku inilah yang seharusnya kita pertahankan di sebelas bulan lainnya. Saat keinginan kita mendominasi kebutuhan material duniawi, jadilah kita bergaya hidup hedonistik. Semakin besar pendapatan, semakin besar pula dan semakin mahal keinginan memiliki hal-hal duniawi. Hal ini sangat sesuai dengan sabda Nabi ﷺ: “Seandainya seorang anak Adam memiliki satu lembah emas, tentu ia akan menginginkan dua lembah lainnya, dan sama sekali tidak akan memenuhi mulutnya (merasa puas) selain tanah (kematian) dan Allah menerima taubat orang-orang yang bertaubat.” (HR Al Bukhari 6439 dan HR Muslim No 1048). Keinginan manusia (baca: nafsu) akan dunia tidak akan pernah terpuaskan sampai dia mati.

DR. Umar Faruq Abdullah menyatakan bahwa mengendalikan nafsu makan dan menahan rasa lapar adalah tingkat disiplin yang paling dasar. Bila kita mampu mengendalikan keduanya, Biiznillah kita dapat mengendalikan lainnya. Itulah pelajaran yang dapat kita ambil dari lambung kita sebagai organ penampung makan kita.

Wallahu a'alam...

Tips Sehat Puasa Ramadhan

Untuk merasakan keberkahan dan hikmah puasa Ramadhan bagi kesehatan tubuh kita, berikut ini adalah tips yang dapat Sobat Sehat lakukan selama berpuasa Ramadhan.

1. Hindari berbuka dengan manis dari gula sederhana apalagi minuman manis instan. Hindari juga GORENGAN! Sayaang.. tubuh sudah di-detoks malahan dikasih "racun" lagi... Manis dari gula sederhana dapat menyebabkan gula darah melonjak. Apalagi berbuka dengan makanan gorengan. Sungguh sayang, tubuh kita yang telah di-detoks malah diberi asupan yang kembali membebani tubuh. Lalu, bukankah ada "hadits" yang menganjurkan berbuka dengan yang manis? Sobat Sehat dapat membacanya di sini. Sobat Sehat juga dapat membaca artikel artikel Berkah Puasa Ramadhan bagi Kesehatan.

2. Berbuka dari manis nya buah atau kurma, karena walau manis tetapi buah masih mengandung serat sehingga gula darah tidak akan melonjak tinggi.

3. Habis buka, sholat dulu... berikan kesempatan organ pencernaan mempersiapkan makan besar, menghasilkan enzim2 pencernaan. Makan yang beragam, terutama perbanyak serat2an dari sayur. Boleh sesuaikan dengan Isi Piringku (inlet gambar sebelah kanan). Nasi boleh dikurangi. Tenang, karena lambung saat puasa biasanya sudah menciut, jdi makan dikit seperti kenyang...

4. Ramadan is the month of fasting not feasting = Ramadhan adalah bulan puasa bukan pesta. Jadi jangan balas dendam yaa...

 

Jadi, demikianlah Tips Sehat Puasa Ramadhan yang ringkas dan mudah. Semoga bermanfaat!